A. Biodata Klien
Nama: Somad
Usia: 32 Tahun
Status: Lajang
Pekerjaan: Karyawan
Agama: Islam
B. Latar Belakang Kasus
Somad (32 tahun) adalah
pria mapan, ia sudah memiliki rumah, mobil, dan juga kekayaan yang berhasil dia
dapatkan dengan usahanya sendiri. Karir Somad dalam dunia pekerjaan juga dibilang
sangat memuaskan namun Somad tidak pernah bisa bergaul dengan baik sejak ia
ditinggal meninggal oleh tunangannya yang bernama Lila (28 tahun) karena
penyakit kanker.
C. Deskripsi Kasus
Somad (32 th) adalah anak
tunggal dari keluarga yang cukup berada. Dari kecil ia didik untuk menjadi
seorang pembisnis sehingga saat ia memasuki dunia kerja, tidak heran jika karir
somad naik dengan cukup pesat. Saat usia 25 tahun, somad melamar lila yang baru
dikenalnya selama satu bulan di sebuah restaurant. Pada awalnya lila menolak
somad karena merasa somad tidak mengenal lila tetapi karena somad tetap gigih,
lila akhirnya mengizinkan somad mengenalnya dan dalam waktu satu bulan mereka
bertunangan.
Pertunangan mereka
ditentang keluarga Somad, terutama karena Lila tidak pernah membawa Somad untuk
berkenalan dengan keluarga Lila atau mengizinkan Somad untuk mengantar Lila ke
rumahnya. Lila juga suka sekali menghilang dan pada saat Lila tidak dapat
dihubungi secara misterius, Somad hanya bisa menunggu Lila untuk kembali. Suatu
hari Lila akhirnya menceritakan mengenai keluarganya, bahwa Lila hanya tinggal
bersama nenek dari Ibunya karena ibunya meninggal karena kanker dan ayah Lila
pergi meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Lila juga mengenalkan
Somad pada satu temannya dan dari temannya diketahui bahwa sebelumnya Lila juga
pernah bertunangan namun pertunangan itu selesai dengan tiba-tiba, tidak ada
yang tahu alasan sebenarnya kecuali Lila. Menghilangnya Lila kali ini membuat
Somad tidak tenang karena ia kini tahu bahwa Lila sebelumnya sudah pernah
bertunangan maka saat Lila kembali, Somad langsung bertanya dia pergi kemana
saja tapi Lila tidak menjawab dan benar saja Lila meminta putus darinya. Tentu
saja Somad tidak menerimanya hingga membuat Lila menangis tapi Lila tidak
menceritakan alasannya, pada akhirnya Lila tetap pergi begitu saja setelah
meminta putus secara sepihak.
Keesokan harinya Somad
menerima surat dari Lila yang dikirimkan oleh teman Lila. Kemudian teman Lila
itu bercerita bahwa seperti ibunya, Lila juga mengidap kanker yang sudah parah,
dan karena mengenal Somad, Lila ingin hidup tetapi semuanya terlambat. Tetapi
setelah memaksa Lila diberikan kesempatan untuk dioperasi dengan kemungkinan
80:20 kalau Lila akan selamat. Lila mengambil kesempatan itu tapi pada akhirnya
Lila meninggal dan meninggalkan surat untuk Somad yang berisikan bahwa Lila
meninggalkan hatinya untuk Somad selamanya. Ditinggalkan oleh Lila yang walau
dikenalnya hanya beberapa bulan membuat karir Somad merosot begitu juga
kemampuannya dalam bergaul dan hal itu sudah berlangsung selama 2 tahun.
D. Penanganan Kasus
Dalam kasus ini teknik
pertama yang bisa digunakan adalah teknik psikoanalisa yaitu transferensi.
Karena Lila bersikap misterius, ada hal-hal yang tidak sempat diungkapkan oleh
Somad kepada Lila, maka Somad akan mengeluarkan segala emosi yang ia tekan
selama ini pada konselor dan setelah Somad merasa sedikit lega, teknik
berikutnya yang dapat digunakan yaitu teknik humanistik dengan pendekatan logo
teraphy yaitu dengann modification attitude. Teknik modification attitude
digunakan untuk noogenic neurosis,
depresi, dan kecanduan. Ini juga dapat digunakan dalam menghadapi penderitaan yang terkait dengan keadaan, nasib atau penyakit. Penekanannya pada reframing sikap dari negatif ke positif.
depresi, dan kecanduan. Ini juga dapat digunakan dalam menghadapi penderitaan yang terkait dengan keadaan, nasib atau penyakit. Penekanannya pada reframing sikap dari negatif ke positif.
Somad yang mengalami depresi berat karena ditinggal meninggal oleh Lila akan diminta untuk menemukan sisi positif dari hal negatif yang ia alami. Terapis akan memposisikan diri sebagai Somad dan memberi tahu hal-hal positif yang telah ia lalui walau sudah tidak bersama Lila, memberitahu bahwa Lila meninggalkannya dengan harapan Somad tidak mengalami depresi dan juga bahwa walau mereka hanya mengenal sebentar tetapi Somad sudah berhasil membuat Lila berani menghadapi penyakitnya. Dengan memberitahu hal-hal positif tersebut, depresi yang dialami Somad akan menurun dan akhirnya Somad dapat kembali merintis karirnya yang sempat menurun dan kembali bergaul dengan teman-temannya.
Terapi eksistensial
humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada klien.
Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan,
keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab
atas dirinya.
Teknik yang digunakan
dalam terapi ini diantaranya :
1. Person Centered-terapy
Person centered therapy
merupakan terapi yang di kembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1942. Ia
memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu
bersifat positif, makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung
jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu),
dan berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan
self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi
diri).
Morse dan Watson (1977)
mengungkapkan terapis client-centered juga harus memegang sikap menerima dan
menganggap positif terhadap kliennya. Terapis juga harus memiliki keinginan
yang terus menerus untuk memahami dunia pribadi kliennya, dan dia harus
berkomunikasi memahami dengan empati.
Ada sejumlah teknik
tertentu yang membantu terapis dalam interaksi dengan klien. Salah satu teknik
adalah dengan clarification of the client's feelings, dimana akan mencerminkan
perasaan klien.
Teknik lain adalah
simple acceptance, restatement of content, dan nondirective leads :
-Simple acceptance:
dimana terapis memngusahakan klien dapat menerima keterangan dari terapis,
menambah komunikasi sebagai pemahaman secara empati dan hal positif tanpa
syarat. Hal ini dapat dilakukan baik secara verbal dan nonverbal.
-Restatement of
content: untuk membantu pemahaman klien dari masalah yang mungkin
membingungkan.
-Nondirective leads:
intinya jelas dalam awal terapi. Terapi membantu klien untuk mengembangkan
topik dan untuk mengarahkan diskusi dalam situasi terapi.
2. Gesalt terapy
Terapi Gestalt
dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang
berpijak pada premis bahwa individu–individu harus menemukan jalan hidupnya
sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka mengharap kematangan.
Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran, terapi Gestalt berfokus pada
“apa“ dan “bagaimana” tingkahlaku dan pengalaman disini-dan sekarang dengan memadukan
(mengintegrasikan) bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tidak diketahui.
Terapis Gestalt secara
aktif menunjukkan bagaimana klien bisa dengan mudah lari dari saat sekarang dan
memasuki masa lampau atau masa depan. Sasaran Perls adalah membantu orang-orang
membuat hubungan dengan pengalaman-pengalaman mereka secara jelas dan segera
ketimbang semata-mata berbicara tentang pengalaman-pengalaman itu. Jadi, jika
klien mulai bicara tentang kesedihan, kesakitan, atau
kebingungan, terapis
membuat usaha-usaha agar klien mengalami kesedihan, kesakitan, atau kebingungan
itu sekarang. Pembicaraan tentang masalah hanya akan menjadi suatu permainan
kata tak berakhir yang menjurus pada diskusi dan eksplorasi yang tidak
produktif atas makna-makna yang tersembunyi. Itu adalah salah satu cara menolak
pertumbuhan, juga suatu cara untuk menipu diri sendiri. Untuk mengurangi bahaya
penipuan diri itu, terapis berusaha mengintensifkan dan memperkuat
perasaan-perasaan tertentu.
Tidaklah tepat
mengatakan bahwa para terapis Gestalt tidak menaruh perhatian pada masa lampau
individu. Masa lampau itu penting apabila dengan cara tertentu berkaitan dengan
tema-tema yang signifikan yang terdapat pada fungsi individu saat sekarang.
Apabila masa lampau memiliki kaitan yang signifikan dengan sikap-sikap atau
tingkah laku individu sekarang, maka masa lampau itu ditangani dengan
membawanya ke saat sekarang sebanyak mungkin. Jadi, apabila klien bicara
tentang masa lampaunya, maka terapis meminta klien agar membawa masa lampaunya
itu ke saat sekarang dengan menjalaninya kembali seakan-akan masa lampau itu
hadir pada saat sekarang.
Dalam terapi Gestalt
terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai, yakni mencakup
perasaan-perasaan yang tak terungkapkan. Meskipun tidak bisa diungkapkan,
perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan-ingatan dan fantasi-fantasi
tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan itu
tetap tinggal pada latar belakang dan dibawa kepada kehidupan sekarang dengan
cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan
dengan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia
menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu.
Levitsky dan Perls
menyajikan suatu uraian ringkas tentang sejumlah permainan yang bisa digunakan
dalam terapi Gestalt, yang mencakup :
a.
Permainan-permainan dialog,
b.
Membuat lingkaran,
c.
Urusan yang tak selesai
d.
“saya memikul tanggung jawab”,
e.
“saya memiliki suatu rahasia”,
f.
Bermain proyeksi,
g.
Pembalikan,
h.
Irama kontak dan penarikan,
i.
“ulangan”,
j.
“melebih-lebihkan”,
k.
“bolehkah saya memberimu sebuah
kalimat?”
l.
Permainan-permainan konseling
perkawinan, dan
m.
“bisakah anda tetap dengan perasaan
ini?”
n.
Logo Therapy
Frankl menyetujui
konsep sigmund freud mengenai ketidaksadaran tetapi menganggap kemauan untuk
lebih mendasar dari kesenangan. Perbedaan utama antara logotherapy dan
psikoanalisis adalah bahwa Freud dan Adler fokus pada masa lalu, sementara
logoterapi lebih berfokus pada masa depan. Logoterapi berarti terapi melalui
makna dan mengacu pada pendekatan yang berorientasi pada spiritual Frankl untuk
psikoterapi.
Frankl cenderung
menekankan kemitraan antara klien dan terapis selama pencarian makna.
1.
komitmen untuk berkomunikasi secara
otentik dengan terapis
2.
komunikasi terapis paling dasar
menekankan kemanusiaan
3.
perhatian utama terapis adalah menjadi
seperti klien.
E.
Teknik terapi untuk logo therapy adalah:
a. Paradoxial Intention
Klien didorong untuk
melakukan sesuatu pada hal yang sangat ia takuti (mulai dari fobia hingga ke
obsesif kompulsif). Teknik ini didasarkan pada kemampuan manusia untuk dapat
memutus lingkaran setan, yaitu orang dengan neurosis psikogenik, seperti fobia,
kecemasan, dan perilaku obsesif-kompulsif. Pada penerapan intensi paradoksial,
terapis
mencoba, untuk
memobilisasi dan memanfaatkan kapasitas ekslusif manusia. Pada kasus gangguan
obsesif-kompulsif klien berperang melawan obsesi atau dorongan. Namun, semakin
ia melawan, gejala tersebut justru semakin menjadi kuat, mengacu pada Guttmann,
intensi paradoksial telah digunakan dengan meningkatkan frekuensi dengan hasil
yang baik terutama dalam mengobati klien yang menderita fobia dan gangguan
obsesif-kompulsif.
b. Dereflection
Teknik ini dibangun
pada kapasitas self-distancing dan self-transcendence manusia. Klien diminta
untuk mengarahkan perhatian mereka jauh dari masalah mereka ke aspek yang lebih
positif dari kehidupan mereka.
c. Modification of
attitudes
Digunakan untuk
noogenic neurosis, depresi, dan kecanduan. Ini juga dapat digunakan dalam
menghadapi penderitaan yang terkait dengan keadaan, nasib atau penyakit.
Penekanannya pada pada reframing sikap dari negatif ke positif.
d. Analysis
Transaksional
Analisis transaksional
adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada kepribadian,
komunikasi, dan relasi manusia atau hubungan interaksional. Analisis
transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami
keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan
kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne
dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih
dan, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar