Kamis, 23 Maret 2017

Teori Humansitik


A. Biodata Klien
Nama: Somad
Usia: 32 Tahun
Status: Lajang
Pekerjaan: Karyawan
Agama: Islam

B. Latar Belakang Kasus
Somad (32 tahun) adalah pria mapan, ia sudah memiliki rumah, mobil, dan juga kekayaan yang berhasil dia dapatkan dengan usahanya sendiri. Karir Somad dalam dunia pekerjaan juga dibilang sangat memuaskan namun Somad tidak pernah bisa bergaul dengan baik sejak ia ditinggal meninggal oleh tunangannya yang bernama Lila (28 tahun) karena penyakit kanker.

C. Deskripsi Kasus
Somad (32 th) adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup berada. Dari kecil ia didik untuk menjadi seorang pembisnis sehingga saat ia memasuki dunia kerja, tidak heran jika karir somad naik dengan cukup pesat. Saat usia 25 tahun, somad melamar lila yang baru dikenalnya selama satu bulan di sebuah restaurant. Pada awalnya lila menolak somad karena merasa somad tidak mengenal lila tetapi karena somad tetap gigih, lila akhirnya mengizinkan somad mengenalnya dan dalam waktu satu bulan mereka bertunangan.
Pertunangan mereka ditentang keluarga Somad, terutama karena Lila tidak pernah membawa Somad untuk berkenalan dengan keluarga Lila atau mengizinkan Somad untuk mengantar Lila ke rumahnya. Lila juga suka sekali menghilang dan pada saat Lila tidak dapat dihubungi secara misterius, Somad hanya bisa menunggu Lila untuk kembali. Suatu hari Lila akhirnya menceritakan mengenai keluarganya, bahwa Lila hanya tinggal bersama nenek dari Ibunya karena ibunya meninggal karena kanker dan ayah Lila pergi meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Lila juga mengenalkan Somad pada satu temannya dan dari temannya diketahui bahwa sebelumnya Lila juga pernah bertunangan namun pertunangan itu selesai dengan tiba-tiba, tidak ada yang tahu alasan sebenarnya kecuali Lila. Menghilangnya Lila kali ini membuat Somad tidak tenang karena ia kini tahu bahwa Lila sebelumnya sudah pernah bertunangan maka saat Lila kembali, Somad langsung bertanya dia pergi kemana saja tapi Lila tidak menjawab dan benar saja Lila meminta putus darinya. Tentu saja Somad tidak menerimanya hingga membuat Lila menangis tapi Lila tidak menceritakan alasannya, pada akhirnya Lila tetap pergi begitu saja setelah meminta putus secara sepihak.
Keesokan harinya Somad menerima surat dari Lila yang dikirimkan oleh teman Lila. Kemudian teman Lila itu bercerita bahwa seperti ibunya, Lila juga mengidap kanker yang sudah parah, dan karena mengenal Somad, Lila ingin hidup tetapi semuanya terlambat. Tetapi setelah memaksa Lila diberikan kesempatan untuk dioperasi dengan kemungkinan 80:20 kalau Lila akan selamat. Lila mengambil kesempatan itu tapi pada akhirnya Lila meninggal dan meninggalkan surat untuk Somad yang berisikan bahwa Lila meninggalkan hatinya untuk Somad selamanya. Ditinggalkan oleh Lila yang walau dikenalnya hanya beberapa bulan membuat karir Somad merosot begitu juga kemampuannya dalam bergaul dan hal itu sudah berlangsung selama 2 tahun.

D. Penanganan Kasus
Dalam kasus ini teknik pertama yang bisa digunakan adalah teknik psikoanalisa yaitu transferensi. Karena Lila bersikap misterius, ada hal-hal yang tidak sempat diungkapkan oleh Somad kepada Lila, maka Somad akan mengeluarkan segala emosi yang ia tekan selama ini pada konselor dan setelah Somad merasa sedikit lega, teknik berikutnya yang dapat digunakan yaitu teknik humanistik dengan pendekatan logo teraphy yaitu dengann modification attitude. Teknik modification attitude digunakan untuk noogenic neurosis,
depresi, dan kecanduan. Ini juga dapat digunakan dalam menghadapi penderitaan yang terkait dengan keadaan, nasib atau penyakit. Penekanannya pada reframing sikap dari negatif ke positif.

Somad yang mengalami depresi berat karena ditinggal meninggal oleh Lila akan diminta untuk menemukan sisi positif dari hal negatif yang ia alami. Terapis akan memposisikan diri sebagai Somad dan memberi tahu hal-hal positif yang telah ia lalui walau sudah tidak bersama Lila, memberitahu bahwa Lila meninggalkannya dengan harapan Somad tidak mengalami depresi dan juga bahwa walau mereka hanya mengenal sebentar tetapi Somad sudah berhasil membuat Lila berani menghadapi penyakitnya. Dengan memberitahu hal-hal positif tersebut, depresi yang dialami Somad akan menurun dan akhirnya Somad dapat kembali merintis karirnya yang sempat menurun dan kembali bergaul dengan teman-temannya.
Terapi eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan, keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab atas dirinya.
Teknik yang digunakan dalam terapi ini diantaranya :
1.      Person Centered-terapy
Person centered therapy merupakan terapi yang di kembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1942. Ia memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat positif, makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), dan berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri).
Morse dan Watson (1977) mengungkapkan terapis client-centered juga harus memegang sikap menerima dan menganggap positif terhadap kliennya. Terapis juga harus memiliki keinginan yang terus menerus untuk memahami dunia pribadi kliennya, dan dia harus berkomunikasi memahami dengan empati.
Ada sejumlah teknik tertentu yang membantu terapis dalam interaksi dengan klien. Salah satu teknik adalah dengan clarification of the client's feelings, dimana akan mencerminkan perasaan klien.
Teknik lain adalah simple acceptance, restatement of content, dan nondirective leads :
-Simple acceptance: dimana terapis memngusahakan klien dapat menerima keterangan dari terapis, menambah komunikasi sebagai pemahaman secara empati dan hal positif tanpa syarat. Hal ini dapat dilakukan baik secara verbal dan nonverbal.
-Restatement of content: untuk membantu pemahaman klien dari masalah yang mungkin membingungkan.
-Nondirective leads: intinya jelas dalam awal terapi. Terapi membantu klien untuk mengembangkan topik dan untuk mengarahkan diskusi dalam situasi terapi.
2.      Gesalt terapy
Terapi Gestalt dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu–individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka mengharap kematangan. Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran, terapi Gestalt berfokus pada “apa“ dan “bagaimana” tingkahlaku dan pengalaman disini-dan sekarang dengan memadukan (mengintegrasikan) bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tidak diketahui.
Terapis Gestalt secara aktif menunjukkan bagaimana klien bisa dengan mudah lari dari saat sekarang dan memasuki masa lampau atau masa depan. Sasaran Perls adalah membantu orang-orang membuat hubungan dengan pengalaman-pengalaman mereka secara jelas dan segera ketimbang semata-mata berbicara tentang pengalaman-pengalaman itu. Jadi, jika klien mulai bicara tentang kesedihan, kesakitan, atau
kebingungan, terapis membuat usaha-usaha agar klien mengalami kesedihan, kesakitan, atau kebingungan itu sekarang. Pembicaraan tentang masalah hanya akan menjadi suatu permainan kata tak berakhir yang menjurus pada diskusi dan eksplorasi yang tidak produktif atas makna-makna yang tersembunyi. Itu adalah salah satu cara menolak pertumbuhan, juga suatu cara untuk menipu diri sendiri. Untuk mengurangi bahaya penipuan diri itu, terapis berusaha mengintensifkan dan memperkuat perasaan-perasaan tertentu.
Tidaklah tepat mengatakan bahwa para terapis Gestalt tidak menaruh perhatian pada masa lampau individu. Masa lampau itu penting apabila dengan cara tertentu berkaitan dengan tema-tema yang signifikan yang terdapat pada fungsi individu saat sekarang. Apabila masa lampau memiliki kaitan yang signifikan dengan sikap-sikap atau tingkah laku individu sekarang, maka masa lampau itu ditangani dengan membawanya ke saat sekarang sebanyak mungkin. Jadi, apabila klien bicara tentang masa lampaunya, maka terapis meminta klien agar membawa masa lampaunya itu ke saat sekarang dengan menjalaninya kembali seakan-akan masa lampau itu hadir pada saat sekarang.
Dalam terapi Gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai, yakni mencakup perasaan-perasaan yang tak terungkapkan. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan-ingatan dan fantasi-fantasi tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan dibawa kepada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu.
Levitsky dan Perls menyajikan suatu uraian ringkas tentang sejumlah permainan yang bisa digunakan dalam terapi Gestalt, yang mencakup :
a.       Permainan-permainan dialog,
b.      Membuat lingkaran,
c.       Urusan yang tak selesai
d.      “saya memikul tanggung jawab”,
e.       “saya memiliki suatu rahasia”,
f.       Bermain proyeksi,
g.      Pembalikan,
h.      Irama kontak dan penarikan,
i.        “ulangan”,
j.        “melebih-lebihkan”,
k.      “bolehkah saya memberimu sebuah kalimat?”
l.        Permainan-permainan konseling perkawinan, dan
m.    “bisakah anda tetap dengan perasaan ini?”
n.      Logo Therapy
Frankl menyetujui konsep sigmund freud mengenai ketidaksadaran tetapi menganggap kemauan untuk lebih mendasar dari kesenangan. Perbedaan utama antara logotherapy dan psikoanalisis adalah bahwa Freud dan Adler fokus pada masa lalu, sementara logoterapi lebih berfokus pada masa depan. Logoterapi berarti terapi melalui makna dan mengacu pada pendekatan yang berorientasi pada spiritual Frankl untuk psikoterapi.
Frankl cenderung menekankan kemitraan antara klien dan terapis selama pencarian makna.
1.      komitmen untuk berkomunikasi secara otentik dengan terapis
2.      komunikasi terapis paling dasar menekankan kemanusiaan
3.      perhatian utama terapis adalah menjadi seperti klien.
E. Teknik terapi untuk logo therapy adalah:
a. Paradoxial Intention
Klien didorong untuk melakukan sesuatu pada hal yang sangat ia takuti (mulai dari fobia hingga ke obsesif kompulsif). Teknik ini didasarkan pada kemampuan manusia untuk dapat memutus lingkaran setan, yaitu orang dengan neurosis psikogenik, seperti fobia, kecemasan, dan perilaku obsesif-kompulsif. Pada penerapan intensi paradoksial, terapis
mencoba, untuk memobilisasi dan memanfaatkan kapasitas ekslusif manusia. Pada kasus gangguan obsesif-kompulsif klien berperang melawan obsesi atau dorongan. Namun, semakin ia melawan, gejala tersebut justru semakin menjadi kuat, mengacu pada Guttmann, intensi paradoksial telah digunakan dengan meningkatkan frekuensi dengan hasil yang baik terutama dalam mengobati klien yang menderita fobia dan gangguan obsesif-kompulsif.
b. Dereflection
Teknik ini dibangun pada kapasitas self-distancing dan self-transcendence manusia. Klien diminta untuk mengarahkan perhatian mereka jauh dari masalah mereka ke aspek yang lebih positif dari kehidupan mereka.
c. Modification of attitudes
Digunakan untuk noogenic neurosis, depresi, dan kecanduan. Ini juga dapat digunakan dalam menghadapi penderitaan yang terkait dengan keadaan, nasib atau penyakit. Penekanannya pada pada reframing sikap dari negatif ke positif.
d. Analysis Transaksional
Analisis transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada kepribadian, komunikasi, dan relasi manusia atau hubungan interaksional. Analisis transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar