1. Logoterapi
(Frankl)
a. Konsep
Dasar Pandangan Frankl tentang Perilaku / Kepribadian
Pandangan
Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti.
Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur.
Frankl berpendapat manusia harus dapat
menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk
memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu
adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah
prinsip utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar,
yakni
Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia
adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud
dalam freedom of will seperti:
·
Kebebasan
yang bertanggungjawab.
·
Kebebasan
untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut.
·
Kebebasan
untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
Kehendak
Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the will
to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977).
Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan
psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi
bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan
merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut Frankl
bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka
individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu yang
bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.
Makna
Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari
pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna
hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara
satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu,
yang penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup
pada suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk
menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa
digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas
yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
b. Unsur-unsur
Terapi
Munculnya
gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki keinginan
terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap manusia untuk
melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan berharga.
Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan,
yaitu:
-
Frustasi
eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga kehampaan
-
eksistensial
(exsistetial vacuum)
Menurut
Koesworo,1992, exsistential frustration adalah fenomena umum yang berkaitan
dengan keterhambatan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan
makna.
-
Neurosis
noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi
khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik
klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini
untuk membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang
berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis
yang bersumber pada konflik-konflik psikologis.
c. Tujuan
terapi
-Memahami adanya potensi dan sumber
daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras,
keyakinan, dan agama yang dianutnya.
-Menyadari bahwa sumber-sumber dan
potensi itu sering ditekan, terhambat, dan diabaikan, bahkan terlupakan.
-Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk
bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai
kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang
lebih bermakna.
-Peran terapis
Terapis memberikan sugesti-sugesti
terhadap klien, bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan
sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
d. Teknik-teknik
Terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa
setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus
diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah
menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor
Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail.
Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
-
Intensi
paradoksal
Mampu
menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan
hiper-in tensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang
ditakuti.
2. Pengertian Rational Emotive Teraphy
Istilah Rational
Emotive Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena;
paling – paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang
menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dan akal sehat (rational
thinking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting),
serta berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperilaku
dan berperasaan. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya,
harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berpikir dan memanfaatkan akal
sehat. Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah “Albert
Ellis” (1913-2007), yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku antara lain
buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1962), A
new Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul The
Rational-Emotive Approach to Counseling dalam buku Burks Theories of
Counseling (1979). Menurut pengakuan Ellis sendiri, corak konseling Rational-Emotive
Therapy (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan
Kognitif-Behavioristik. Teorinya mempunyai kemiripan dengan terapi kognitif
Aaron Beck (yang dirumuskan secara terpisah pada waktu hampir bersamaan) dan
terapi mood baru David Burns. Para ahli psikologis klinis sering mengkhususkan
diri dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga. Pada mulanya Ellis
mendapat pendidikan dalam pengalaman prakteknya ia merasa kurang meyakini
psikoanalisa yang dianggap ortodoks. Oleh karena itu berdasarkan pengalaman dan
pengetahuannya dalam teori belajar behavioral, kemudian ia mengembangkan suatu
pendekatan sendiri yang disebut Rational Emotive Therapy (RET) atau
terapi rasional emotif.
a. Konsep Pokok
Ellis memandang bahwa manusia itu
bersifat rasional dan juga irasional orang berperilaku dalam cara-cara tertentu
karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Orang mempunyai
derajat yang tinggi dalam sugestibilitas dan emosionalitas yang negatif
(seperti kecemasan, rasa berdosa, permusuhan, dan sebagainya). Masalah-masalah
emosional terletak dalam berpikir yang tidak logis. Dengan mengoptimalkan
kekuatan intelektualnya, seseorang dapat membebankan dirinya dari gangguan
emosional. Para penganut teori RET percaya bahwa tidak ada orang yang
disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi setiap orang
bertanggung jawab akan semua perilakunya. Ellis percaya bahwa manusia mempnyai
kepedulian diri dan kepedulian sosial. Bagaimanapun juga, RET juga
menganggap manusia “rasional dan irasional, masuk akal sekaligus gila, menurut
Ellis dualitas tersebut tertanam secara biologis dan berkelanjutan sampai cara
berpikir yang baru dipelajari.(Dryden, 1994)(dikutip dari buku: Samuel T
Gladding, Konseling Profesi yang menyeluruh, 2012 Jakarta: indeks. Hal
266). Pikiran irasional, atau seperti yang didefinisikan oleh
Ellis, keyakinan irasional (iBs), melibatkan pembentukan pikiran yang
mengganggu dan menjengkelkan. Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah
asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Menurut Ellis,
pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling tumpang tindih, dan dalam
prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh
pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu
proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Pikiran-pikiran seseorang dapat
menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat
menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi
dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi
emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan
yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banyak perilakuemosional
individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi
kalimat-kalimat, yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang
pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang seperti itu,
menurut Ellis adalah karena:
1. Terlalu bodoh untuk berpikir secara
jelas.
2. Orangnya cerdas tetapi tidak tahu
bagaimana berpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi.
3. Orangnya cerdas cudan cukup
berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan
pengetahuan secara memadai.
Meskipun Ellis tidak membahas tahap
perkembangan individu, dia berpendapat bahwa anak-anak lebih gampang terkena
pengaruh dari luar dan memiliki cara berpikir yang tidak rasional daripada
orang dewasa. Pada dasarnya, dia meyakini bahwa manusia itu naif, mudah
disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan, orang mempunyai kemampuan di
dalam dirinya sendiri untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakan, teapi
perta,a-tama dia harus menyadari apa yang mereka katakan pada diri sendiri (bicara
pada diri sendiri) untuk mendapatkan komando atas kehidupannya. Ini adalah
masalah kesadaran pribadi. Pikiran tidak sadar tidak termasuk di dalam konsep
Ellis tentang sifat manusia. Lebih jauh lagi, Ellis percaya bahwa adalah suatu
kesalahan, jika orang mengevaluasi atau menilai diri sendiri melebihi gagasan
bahwa semua orang adalah makhluk yang bisa berbuat salah. Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis. Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang
dikemukakan oleh Albert Elis dan para penganut Rational Emotive Therapy adalah
apa yang disebut dengan konsep atau teori A-B-C-D-E. Teori ini adalah sentral
dari teori dan praktek RET. Berikut adalah pemaparan singkat tentang teori ini: Antecedent
event, Activity, or Action, or Agent (A) yaitu segenap peristiwa luar yang
dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian,
tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi
siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi
seseorang. Belief
(B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap
suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang
rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional
(irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir
atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi
prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system
berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak
produktif. Emotional
consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya
dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung
dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan
(B) baik yang rB maupun yang iB. Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E
untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D)
keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak
(effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional. Sebagai
contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir
bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang
depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang
terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang
depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri
sendiri. Walaupun
tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama
keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan
tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang
muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat
dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering. Konsep
teorik A-B-C-D-E mengenai kepribadian yang dikemukakan tersebut merupakan
konsep utama baik dalam teori maupun dalam praktek RET serta mempunyai kaitan
yang erat dengan asumsi-asumsi filosofis tentang hakikat manusia serta
pandangan mengenai kepribadiannya. Kepribadian menurut Ellis pada dasarnya
terdiri atas kepercayaan, konstruk, atau sikap. Apabila seseorang individu
mempunyai suatu reaksi emosional pada titik C (konsekuensi emosional), setelah
terjadi kegiatan atau peristiwa atau pengalaman, hal itu menyebabkan suatu
sistem kepercayaan (pada titik B). A tidak menyebabkan C tetapi sistem
kepercayaan yang menjadi A menyebabkan C.
b. Teknik Teknik Terapi
Terapi rasional emotif menggunakan
berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang
disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan dikemukakan beberapa macam
teknik (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar
Pustaka. Hal 23-25)
1.
Teknik-Teknik
Emotif (afektif):
a.
Teknik
Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan
membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan
perilaku tertentu yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih
bersifat pendisiplinan diri klien.
b.
Teknik
sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang
menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu drama yang didramatisasikan
sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya seniri
secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c.
Teknik
“self-modelling” atau “diri sebagai model” yakni teknik yang digunakan untuk
meminta klien agar “berjani” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk
menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Dalam self-modelling ini klien
diminta untuk tetap setia pada janjinya dan secara terus menerus menghindarkan
dirinya dari perilaku negatif.
d.
Teknik
imitasi, yaitu teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukan
secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan
menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2.
Teknik-Teknik
Behavioristik
Dalam
banyak hal, konseling rasional-emotif banyak menggunakan teknik terapi
behavioral terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari
klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis.
Beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:
a.
Teknik
Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien
kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian
(reward) ataupun punishment (hukuman). Bila perilaku klien mengalami kemajuan
dalam arti positif, maka ia dipuji “baik” bila mundur dalam arti masih negatif,
maka dikatakan “tidak baik”. Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem
nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem
nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien
akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan padanya.
b.
Teknik
Social Modelling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk
memberikan perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien
dapat hidup dalam suatu moel sosial yang diharapkan dengan cara imitasi
(peniruan), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dengan model sosial yang
dibuat itu. Dalam teknik ini, konselor mencoba mengamati bagaimana proses klien
mempersepsi, menyesuaikan dirinya dan menginternalisasi norma-norma dalam model
sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor atau terapis.
c.
Teknik Live
Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan
perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang
kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan
masalah-masalah.
3.
Teknik-Teknik
Kognitif
Teknik-teknik
konseling atau terapi berdasarkan perkataan kognitif memegang peran utama dalam
konseling rasional-emotif. Teknik-teknik ini digunakan dengan maksud untuk
mengubah sistem keyakinan yang irasioal klien serta perilaku-perilakunya yang
negatif. Dengan teknik ini klien didorong dan dimodifikasi aspek kognitifnya
agar dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis sehingga klien dapat
bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik terhadap
dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Beberapa
teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:
a.
Home Work
Assignments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien diberikan tugas-tugas
rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai
tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang
diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide serta
perasaan-perasaan yang irasional dan ilogis dalam situasi-situasi tertentu,
mempraktekkan respons-respons tertentu, berkonfrontasi dengan verbalisasi diri
yang mendahului, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk
mengubah aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
berdasarkan tugas yang diberikan. Selanjutnya, pelaksanaan Home Work Assignment
yang diberikan konselor dilaporkan terhadap klien dalam suatu pertemuan tatap
muka dengan konselor di kantor, disekolah, atau ditempat lain. Teknik ini
sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap bertanggung
jawab, kepercayaan diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri,
pengelolaan diri klien serta mengurangi ketergantungannya kepada konselor atau
terapis.
b.
Teknik
Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role
playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan, dan social modelling atau
meniru model-model sosial. John L. Shelton (1977) mengemukakan bahwa maksud
utama teknik Assertive Training adalah untuk:
·
Mendorong
kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang berhubungan dengan emosinya,
·
Membangkitkan
kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau
memusihi hak asasi orang lain,
·
Mendorong
kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri,
·
Meningkatkan
kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang cocok untuk dirinya
sendiri (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar
Pustaka. Hal 25-26).
Dalam mengaplikasi berbagai teknik
konseling rasional-emotif, Albert Ellis menganjurkan untuk menggunakan den
menggabungkan beberapa teknik tertentu sesuai dengan permasalahn yang dihadapi
klien. Hanya Ellis menyarankan agar teknik Home Work Assignment perlu digunakan
sebagai syarat utama untuk sesuatu terapi atau konseling yang tuntas. Selanjutnya
dikatakan oleh Ellis bahwa meskipun pada mulanya terapi rasional-emotif
dimaksudkan untuk mendorong individu yang mengalami gangguan, akan tetapi dapat
pula digunakan untuk membantu orang dalam mengurangi kecemasan dan permusuhan
serta berguna untuk membantu mewujudkan diri individu. Bagi para konselor
sekolah, terapi rasional-emotif akan sangat membantu krena pada dasarnya terapi
rasional-emotif lebih menggunakan model edukatif daripada model psikodinamik
atau model demik. Dengan demikian para konselor sekolah dapat menggunakannya
bagi siswa-siswa normal di sekolah.
c. Unsur-unsur
terapi
Unsur pokok terapi rasional-emotif
adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut
Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan
dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan
dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan
diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik.
Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu
dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata
lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran.
Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu
dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan
yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku
emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau
internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya
sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang
yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena: (1) terlalu bodoh untuk berpikir
secara jelas, (2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara
cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya
dengan keadaan emosi, (3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi
terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.
3.Terapi
Kelompok
a.
konsep
Terapi Kelompok merupakan suatu
psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan
berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis
atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi
psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien
dengan gangguan interpersonal. Keuntungan yang diperoleh individu melalui
terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan,
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan
interpersonal dan meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok
ini dapat dilakukan pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri,
harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku
kekerasan atau agresif dan amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu,
dapat mengobati klien dalam jumlah banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah
secara kelompok, menggali gaya berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam
memecahkan masalah, dan belajar peran di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini
juga terdapat kekurangan yaitu : kehidupan pribadi klien tidak terlindungi,
klien kesulitan mengungkapkan masalahnya, terapis harus dalam jumlah banyak.
Dengan sharing pengalaman pada klien dengan isolasi sosial diharapkan klien
mampu membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga
keterampilan hubungan sosial dapat ditingkatkan untuk diterapkan sehari-hari.
Munculnya Gangguan
Terapi kelompok digunakan apabila
pasien yang mengalami karakteristik gangguan seperti kebingungan konsep diri,
harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, kekerasan, atau
menarik diri dari lingkungan social yang sudah tidak dapat ditangani lagi oleh
terapi yang bersifat individual.
Jenis dan Tujuan Terapi Kelompok
menurut Rawlins, Wiliams dan Beck (1993) :
-
Kelompok
terapeutik
Bertujuan
mencegah masalah kesehatan, mendidik, mengembangkan potensi, meningkatkan
kualitas kelompok dengan angota saling bantu dalam menyelesaikan masalah.
-
Terapi
kelompok
Membuat
sadar diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan membuat perubahan.
-
Terapi
aktivitas kelompok
Aktivitas
dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok yang dilakukan secara bertahap.
Selain itu, dapat juga berupa melakukan hal yang menjadi hobinya seperti
menyanyi, saat melakukan hobi, terapis mengobservasi reaksi pasien berupa
ekspresi perasaan secara nonverbal.
Secara
umum, dapat kita simpulkan bahwa tujuan dari terapi kelompok adalah untuk
meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal, membagi emosi
atau perasaan yang dimiliki pasien dan agar pasien mandiri.
Peran
Terapis
Terapis
membantu, mendorong pasien secara aktif agar mencapai tujuan-tujuan dari terapi
kelompok
b. Unsur-unsur
Terapi kelompok
Unsur-unsur terapi kelompok adalah :
1. Munculnya gangguan
Terapi
kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi
individu
2. Tujuan terapi
-Meningkatkan identitas diri -Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar
sesama didalam kelompok terapis -
Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
3. Peran terapis
Terapis
harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untukmencapai
tujuan atau harapannya.
c.
Teknik-teknik Terapi
Berikut sejumlah teknik yang dapat
digunakan ketika melaksanakan terapi kelompok :
-
Teknik yang
melibatkan para anggota
-
Teknik yang
melibatkan pemimpin
-
Menggunakan
babak-babak terapeutik
-
Teknik
sesekali membantu lebih dari satu anggota
-
Teknik
untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung
-
Teknik yang
menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi
4. Terapi
Perilaku
A. Konsep
Dasar Terapi Perilaku
Selama masa perkembangannya sampai saat
ini, terdapat tiga perubahan besar dalam penerapan terapi perilaku, yaitu :
1. Terapi perilaku yang fokus pada
memodifikasi perilaku-perilaku tampak (overt behavior), yakni yang didasarkan
pada prinsip dan prosedur clasical dan operant conditioning. Terdapat dua
pendekatan yang terkenal yakni :
-
applied
behavior analysis (Skinner)
Pada
pendekatan ini asumsi yang digunakan adalah perilaku merupakan fungsi dari
konsekuensi (behavior is a function of its consequences). Prosedur yang
digunakan berupa pemberian reinforcement, punishment, extinction dan stimulus
control.
-
Neobehavioristic
mediational
stimulus response (Mowrer & Miller). Merupakan aplikasi dari konsep
clasical conditioning. Pada pendekatan ini mulai disadari bahwa proses mental
mempunyai pengaruh terhadap hukum belajar yang kemudian membentuk suatu perilaku.
Model pendekatan Stimulus Respon menggunakan proses mediasional. Teknik-teknik
yang digunakan berupa systematic desensitization dan flooding.
2. Gerakan
ke dua ialah Social-Cognitive theory yang diprakarsai oleh Bandura (1986). Ada
3 faktor yang terpisah namun saling membentuk sistem interaksi satu sama
lainnya, yang berupa lingkungan (external stimulus event)s, penguatan (external
reinforcement), dan proses kognitif (cognitive mediational processes).
Social-Cognitive Theory beranggapan bahwa ketiga elemen terseut saling
mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, dalam prosedur treatment yang
menjadi fokus adalah individu itu sendiri sebagai agent of change. Aplikasi
dari teori ini adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT).
3. Gerakan ketiga dalam perkembangan
terapi perilaku didasari oleh argumentasi Hayes (2004) yang mulai menggunakan
konsep penerimaan (acceptance) yg merupakan proses aktif dari self-affirmation,
menerima bukan berarti menyerah melainkan keberanian untuk mengalami/merasakan
pikiran perasaan negatif. Terdapat dua bentuk terapi perilaku yang menggunakan
konsep acceptance, yakni :
a.
Dialectical
Behaviora Therapy (DBT)
Terdapat
dua konsep penting dalam penerapan DBT, yakni Acceptance and change dan
Mindfullness. Untuk mencapai kondisi mindfullness dibutuhkan beberapa kemampuan
yang harus dikuasai, yakni :
- Mengamati
serta memperhatikan emosi yang dirasakan tanpa mencoba untuk menghentikan
walaupun terasa sangat menyakitkan.
-Mencoba
untuk menjelaskan dan menjabarkan pikiran serta perasaan yang sedang dirasakan.
-Jangan
langsung menghakimi atas pikiran dan perasaan yang sedang dialami, tapi coba
untuk mengidentifikasi dan memahami apa yang menjadi penyebab hal tersebut.
-Stay in
the present.
-Fokus pada satu hal
(one mindfully).
b.
Acceptance and Commitment Therapy (ACT).
Sedangkan dalam Acceptance and
Commitment Therapy mengkombinasikan prinsip-prinsip behaviorisme Skinner dengan
faktor bahasa dan kognitif serta bagaimana ketiga faktor tersebut berpengaruh
dalam psikopatologi. Terdapat empat konsep utama yakni:
-Experiential avoidance. Mengacu pada
proses mencoba untuk menghindari pengalaman pribadi negatif atau menyedihkan,
-Acceptance. ACT dirancang untuk
membantu klien belajar bahwa menghindari pengalaman adalah bukan solusi.
-Cognitive Defusion. Konsep ini mengacu
memisahkan pikiran dari orang lain yang dan apa yang kita pikirkan.
-Commitment. ACT berfokus pada
tindakan.
B. Unsur
Usur terapi
1)
Munculnya Gangguan
Terapi behavior adalah salah satu
teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh
dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang
dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih
efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih
efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.
2)
Tujuan Terapi
Terapi behavioral memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku
spesifik atau perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan
kondisi-kondisi baru bagi proses belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah
laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif.
3)
Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan
peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para
kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan
ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan
prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang
baru dan adjustive.
C. TeKnik Terapi
1.
Mencari stimulus yang memicu gejala gejala
2.
Menaksir/analisa kaitan kaitan bagaimana gejala gejala menyebabkan
perubahan tingkah laku klien dari keadaan normal sebelumnya.
3.
Meminta klien membayangkan sejelas jelasnya dan menjabarkannya tanpa
disertai celaan atau judgement oleh terapis.
4.
Bergerak mendekati pada ketakutakan yang paling ditakuti yang dialami
klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin
dihindarinya, dan
5.
Ulangi lagi prosedur di atas sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam
diri klien.
Corey, Gerald. 1991. Theory and Practice of Counseling and
Psychotheray, 5th Ed. Brooks/Cole Publishing Company
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan
Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar