Rabu, 19 April 2017

tugas part 2.

contoh kasus

Ada seorang istri yang mengeluh dengan keadaan suaminya yang terus terusan tidak mempercayai dirinya suaminya ini sangat sulit untuk memepercayai sang istri . mereka berbeda usia 2 tahun , sang suami berumur 24 tahun dan sang istri berumuh 26 tahun,  hal ini sudah terlihat saat mereka baru berpacaran dan terus meningkat setelah mereka sudah menikah. Saat suami kerja dan istri dirumah pasti sang suami selalu curiga bahwa istrinya yang di rumah ini membawa pria lain masuk ke rumah dan berselingkuh, bahkan ketika sang istri sedang pergi arisan selama dua jam lebih maka sang suami pun menuduh bahwa istrinya telah berselingkuh . ketika sedang berlibur pun sang suami sering sekali menuduh istrinya sangat senang jika ada laki laki tampan yang meliriknya.

Dalam hal ini bisa di gunakan terapi kelompok , yang berfokus pada bagaimana para anggota kelompok dapat berhubungan satu sama lainnya , dalam hal ini pasien di harapkan dapat berbincang dengan teman temannya kelompoknya untuk teryus membantu mengembangkan kesadaran diri paien dan mengungkapkan secara terus terang .  dengan bermain peran , pasien bisa merasakan menjadi orang lain dengan cara berganti peran dengan temannya , supaya pasien juga bisa merasakan efek  untuk membuat pasien mengerti perasaan orang lain. diharapkan  terapi ini dapat diterapkan pada kesehariannya serta dapat menumbuhkan kepercayaan tersebut kepada suaminya. .


tugas part 2.

1.  Logoterapi (Frankl)
a.   Konsep Dasar Pandangan Frankl tentang Perilaku / Kepribadian

Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat  manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni

Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud dalam freedom of will seperti:
·         Kebebasan yang bertanggungjawab.
·         Kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut.
·         Kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Konsep keinginan kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977). Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari kesenangan. Pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal makna, menurut Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena sifatnya menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu menjadi individu yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat dengan makna.

Makna Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).

b.  Unsur-unsur Terapi
Munculnya gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki keinginan terhadap sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan berharga. Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan, yaitu:
-      Frustasi eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga kehampaan
-      eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992, exsistential frustration adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan atau kegagalan individu dalam memenuhi keinginan akan makna.
-      Neurosis noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi khusus dari frustasi eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik klinis tertentu yang tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini untuk membedakan dengan keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang berakar pada kondisi fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis yang bersumber pada konflik-konflik psikologis.

c.   Tujuan terapi

-Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan, dan agama yang dianutnya.

-Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat, dan diabaikan, bahkan terlupakan.

-Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

-Peran terapis
Terapis memberikan sugesti-sugesti terhadap klien, bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

d.  Teknik-teknik Terapi

Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah menemukan sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Teknik-teknik yang digunakan antara lain:
-      Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-in tensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.


2.    Pengertian Rational Emotive Teraphy
Istilah Rational Emotive Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; paling – paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dan akal sehat (rational thinking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperilaku dan berperasaan. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berpikir dan memanfaatkan akal sehat. Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah “Albert Ellis” (1913-2007), yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku antara lain buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1962),  A new Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul   The Rational-Emotive Approach to Counseling  dalam buku Burks Theories of Counseling (1979). Menurut pengakuan Ellis sendiri, corak konseling Rational-Emotive Therapy (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan Kognitif-Behavioristik. Teorinya mempunyai kemiripan dengan terapi kognitif Aaron Beck (yang dirumuskan secara terpisah pada waktu hampir bersamaan) dan terapi mood baru David Burns. Para ahli psikologis klinis sering mengkhususkan diri dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga. Pada mulanya Ellis mendapat pendidikan dalam pengalaman prakteknya ia merasa kurang meyakini psikoanalisa yang dianggap ortodoks. Oleh karena itu berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya dalam teori belajar behavioral, kemudian ia mengembangkan suatu pendekatan sendiri yang disebut Rational Emotive Therapy (RET) atau terapi rasional emotif.

a.  Konsep Pokok
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional orang berperilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Orang mempunyai derajat yang tinggi dalam sugestibilitas dan emosionalitas yang negatif (seperti kecemasan, rasa berdosa, permusuhan, dan sebagainya). Masalah-masalah emosional terletak dalam berpikir yang tidak logis. Dengan mengoptimalkan kekuatan intelektualnya, seseorang dapat membebankan dirinya dari gangguan emosional. Para penganut teori RET percaya bahwa tidak ada orang yang disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi setiap orang bertanggung jawab akan semua perilakunya. Ellis percaya bahwa manusia mempnyai kepedulian diri dan  kepedulian sosial. Bagaimanapun juga, RET juga menganggap manusia “rasional dan irasional, masuk akal sekaligus gila, menurut Ellis dualitas tersebut tertanam secara biologis dan berkelanjutan sampai cara berpikir yang baru dipelajari.(Dryden, 1994)(dikutip dari buku: Samuel T Gladding, Konseling Profesi yang menyeluruh, 2012 Jakarta: indeks. Hal 266). Pikiran irasional, atau seperti yang didefinisikan oleh Ellis, keyakinan irasional (iBs), melibatkan pembentukan pikiran yang mengganggu dan menjengkelkan. Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Menurut Ellis, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling tumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banyak perilakuemosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang seperti itu, menurut Ellis adalah karena:
1.     Terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas.
2.    Orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi.
3.    Orangnya cerdas cudan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.

Meskipun Ellis tidak membahas tahap perkembangan individu, dia berpendapat bahwa anak-anak lebih gampang terkena pengaruh dari luar dan memiliki cara berpikir yang tidak rasional daripada orang dewasa. Pada dasarnya, dia meyakini bahwa manusia itu naif, mudah disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan, orang mempunyai kemampuan di dalam dirinya sendiri untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakan, teapi perta,a-tama dia harus menyadari apa yang mereka katakan pada diri sendiri (bicara pada diri sendiri) untuk mendapatkan komando atas kehidupannya. Ini adalah masalah kesadaran pribadi. Pikiran tidak sadar tidak termasuk di dalam konsep Ellis tentang sifat manusia. Lebih jauh lagi, Ellis percaya bahwa adalah suatu kesalahan, jika orang mengevaluasi atau menilai diri sendiri melebihi gagasan bahwa semua orang adalah makhluk yang bisa berbuat salah. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Albert Elis dan para penganut Rational Emotive Therapy adalah apa yang disebut dengan konsep atau teori A-B-C-D-E. Teori ini adalah sentral dari teori dan praktek RET. Berikut adalah pemaparan singkat tentang teori ini: Antecedent event, Activity, or Action, or Agent (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional. Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri. Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering. Konsep teorik A-B-C-D-E mengenai kepribadian yang dikemukakan tersebut merupakan konsep utama baik dalam teori maupun dalam praktek RET serta mempunyai kaitan yang erat dengan asumsi-asumsi filosofis tentang hakikat manusia serta pandangan mengenai kepribadiannya. Kepribadian menurut Ellis pada dasarnya terdiri atas kepercayaan, konstruk, atau sikap. Apabila seseorang individu mempunyai suatu reaksi emosional pada titik C (konsekuensi emosional), setelah terjadi kegiatan atau peristiwa atau pengalaman, hal itu menyebabkan suatu sistem kepercayaan (pada titik B). A tidak menyebabkan C tetapi sistem kepercayaan yang menjadi A menyebabkan C.
b.  Teknik Teknik Terapi
Terapi rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan dikemukakan beberapa macam teknik (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 23-25)
1.     Teknik-Teknik Emotif (afektif):
a.    Teknik Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.    Teknik sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu drama yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya seniri secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c.    Teknik “self-modelling” atau “diri sebagai model” yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjani” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Dalam self-modelling ini klien diminta untuk tetap setia pada janjinya dan secara terus menerus menghindarkan dirinya dari perilaku negatif.
d.    Teknik imitasi, yaitu teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2.    Teknik-Teknik Behavioristik
Dalam banyak hal, konseling rasional-emotif banyak menggunakan teknik terapi behavioral terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis. Beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:
a.    Teknik Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian (reward) ataupun punishment (hukuman). Bila perilaku klien mengalami kemajuan dalam arti positif, maka ia dipuji “baik” bila mundur dalam arti masih negatif, maka dikatakan “tidak baik”. Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan padanya.
b.    Teknik Social Modelling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu moel sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (peniruan), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dengan model sosial yang dibuat itu. Dalam teknik ini, konselor mencoba mengamati bagaimana proses klien mempersepsi, menyesuaikan dirinya dan menginternalisasi norma-norma dalam model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor atau terapis.
c.    Teknik Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
3.    Teknik-Teknik Kognitif
Teknik-teknik konseling atau terapi berdasarkan perkataan kognitif memegang peran utama dalam konseling rasional-emotif. Teknik-teknik ini digunakan dengan maksud untuk mengubah sistem keyakinan yang irasioal klien serta perilaku-perilakunya yang negatif. Dengan teknik ini klien didorong dan dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis sehingga klien dapat bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:

a.    Home Work Assignments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide serta perasaan-perasaan yang irasional dan ilogis dalam situasi-situasi tertentu, mempraktekkan respons-respons tertentu, berkonfrontasi dengan verbalisasi diri yang mendahului, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Selanjutnya, pelaksanaan Home Work Assignment yang diberikan konselor dilaporkan terhadap klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor di kantor, disekolah, atau ditempat lain. Teknik ini sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, kepercayaan diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien serta mengurangi ketergantungannya kepada konselor atau terapis.
b.    Teknik Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan, dan social modelling atau meniru model-model sosial. John L. Shelton (1977) mengemukakan bahwa maksud utama teknik Assertive Training adalah untuk:

·         Mendorong kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang berhubungan dengan emosinya,
·         Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusihi hak asasi orang lain,
·         Mendorong kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri,
·         Meningkatkan kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang cocok untuk dirinya sendiri (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 25-26).
Dalam mengaplikasi berbagai teknik konseling rasional-emotif, Albert Ellis menganjurkan untuk menggunakan den menggabungkan beberapa teknik tertentu sesuai dengan permasalahn yang dihadapi klien. Hanya Ellis menyarankan agar teknik Home Work Assignment perlu digunakan sebagai syarat utama untuk sesuatu terapi atau konseling yang tuntas. Selanjutnya dikatakan oleh Ellis bahwa meskipun pada mulanya terapi rasional-emotif dimaksudkan untuk mendorong individu yang mengalami gangguan, akan tetapi dapat pula digunakan untuk membantu orang dalam mengurangi kecemasan dan permusuhan serta berguna untuk membantu mewujudkan diri individu. Bagi para konselor sekolah, terapi rasional-emotif akan sangat membantu krena pada dasarnya terapi rasional-emotif lebih menggunakan model edukatif daripada model psikodinamik atau model demik. Dengan demikian para konselor sekolah dapat menggunakannya bagi siswa-siswa normal di sekolah.
c.    Unsur-unsur terapi
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena: (1) terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas, (2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi, (3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.
3.Terapi Kelompok
a. konsep
Terapi Kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal. Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat dilakukan pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku kekerasan atau agresif dan amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu, dapat mengobati klien dalam jumlah banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah secara kelompok, menggali gaya berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam memecahkan masalah, dan belajar peran di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini juga terdapat kekurangan yaitu : kehidupan pribadi klien tidak terlindungi, klien kesulitan mengungkapkan masalahnya, terapis harus dalam jumlah banyak. Dengan sharing pengalaman pada klien dengan isolasi sosial diharapkan klien mampu membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga keterampilan hubungan sosial dapat ditingkatkan untuk diterapkan sehari-hari.
Munculnya Gangguan
Terapi kelompok digunakan apabila pasien yang mengalami karakteristik gangguan seperti kebingungan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, kekerasan, atau menarik diri dari lingkungan social yang sudah tidak dapat ditangani lagi oleh terapi yang bersifat individual.
Jenis dan Tujuan Terapi Kelompok menurut Rawlins, Wiliams dan Beck (1993) :
-      Kelompok terapeutik
Bertujuan mencegah masalah kesehatan, mendidik, mengembangkan potensi, meningkatkan kualitas kelompok dengan angota saling bantu dalam menyelesaikan masalah.
-      Terapi kelompok
Membuat sadar diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan membuat perubahan.
-      Terapi aktivitas kelompok
Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok yang dilakukan secara bertahap. Selain itu, dapat juga berupa melakukan hal yang menjadi hobinya seperti menyanyi, saat melakukan hobi, terapis mengobservasi reaksi pasien berupa ekspresi perasaan secara nonverbal.

Secara umum, dapat kita simpulkan bahwa tujuan dari terapi kelompok adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal, membagi emosi atau perasaan yang dimiliki pasien dan agar pasien mandiri.
Peran Terapis

Terapis membantu, mendorong pasien secara aktif agar mencapai tujuan-tujuan dari terapi kelompok

b.  Unsur-unsur Terapi kelompok
Unsur-unsur terapi kelompok adalah :
1.  Munculnya gangguan
Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu
2.  Tujuan terapi
 -Meningkatkan identitas diri  -Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis  - Meningkatkan keterampilan hubungan sosial  - Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
3.  Peran terapis
Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untukmencapai tujuan atau harapannya.
c.   Teknik-teknik Terapi
Berikut sejumlah teknik yang dapat digunakan ketika melaksanakan terapi kelompok :
-      Teknik yang melibatkan para anggota
-      Teknik yang melibatkan pemimpin
-      Menggunakan babak-babak terapeutik
-      Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota
-      Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung
-      Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi

4.  Terapi Perilaku
A.  Konsep Dasar Terapi Perilaku
Selama masa perkembangannya sampai saat ini, terdapat tiga perubahan besar dalam penerapan terapi perilaku, yaitu :
1.  Terapi perilaku yang fokus pada memodifikasi perilaku-perilaku tampak (overt behavior), yakni yang didasarkan pada prinsip dan prosedur clasical dan operant conditioning. Terdapat dua pendekatan yang terkenal yakni :
-      applied behavior analysis (Skinner)
Pada pendekatan ini asumsi yang digunakan adalah perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi (behavior is a function of its consequences). Prosedur yang digunakan berupa pemberian reinforcement, punishment, extinction dan stimulus control.
                                                                         
-      Neobehavioristic
mediational stimulus response (Mowrer & Miller). Merupakan aplikasi dari konsep clasical conditioning. Pada pendekatan ini mulai disadari bahwa proses mental mempunyai pengaruh terhadap hukum belajar yang kemudian membentuk suatu perilaku. Model pendekatan Stimulus Respon menggunakan proses mediasional. Teknik-teknik yang digunakan berupa systematic desensitization dan flooding.

2.    Gerakan ke dua ialah Social-Cognitive theory yang diprakarsai oleh Bandura (1986). Ada 3 faktor yang terpisah namun saling membentuk sistem interaksi satu sama lainnya, yang berupa lingkungan (external stimulus event)s, penguatan (external reinforcement), dan proses kognitif (cognitive mediational processes). Social-Cognitive Theory beranggapan bahwa ketiga elemen terseut saling mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, dalam prosedur treatment yang menjadi fokus adalah individu itu sendiri sebagai agent of change. Aplikasi dari teori ini adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT).

3.    Gerakan ketiga dalam perkembangan terapi perilaku didasari oleh argumentasi Hayes (2004) yang mulai menggunakan konsep penerimaan (acceptance) yg merupakan proses aktif dari self-affirmation, menerima bukan berarti menyerah melainkan keberanian untuk mengalami/merasakan pikiran perasaan negatif. Terdapat dua bentuk terapi perilaku yang menggunakan konsep acceptance, yakni :

a.    Dialectical Behaviora Therapy (DBT)
Terdapat dua konsep penting dalam penerapan DBT, yakni Acceptance and change dan Mindfullness. Untuk mencapai kondisi mindfullness dibutuhkan beberapa kemampuan yang harus dikuasai, yakni :
- Mengamati serta memperhatikan emosi yang dirasakan tanpa mencoba untuk menghentikan walaupun terasa sangat menyakitkan.
-Mencoba untuk menjelaskan dan menjabarkan pikiran serta perasaan yang sedang dirasakan.
-Jangan langsung menghakimi atas pikiran dan perasaan yang sedang dialami, tapi coba untuk mengidentifikasi dan memahami apa yang menjadi penyebab hal tersebut.
-Stay in the present.
-Fokus pada satu hal (one mindfully).
b.  Acceptance and Commitment Therapy (ACT).
Sedangkan dalam Acceptance and Commitment Therapy mengkombinasikan prinsip-prinsip behaviorisme Skinner dengan faktor bahasa dan kognitif serta bagaimana ketiga faktor tersebut berpengaruh dalam psikopatologi. Terdapat empat konsep utama yakni:
-Experiential avoidance. Mengacu pada proses mencoba untuk menghindari pengalaman pribadi negatif atau menyedihkan,
-Acceptance. ACT dirancang untuk membantu klien belajar bahwa menghindari pengalaman adalah bukan solusi.
-Cognitive Defusion. Konsep ini mengacu memisahkan pikiran dari orang lain yang dan apa yang kita pikirkan.
-Commitment. ACT berfokus pada tindakan.
B. Unsur Usur terapi
1)      Munculnya Gangguan
Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.
2)      Tujuan Terapi
Terapi behavioral  memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku spesifik atau perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif.
3)     Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.
C.  TeKnik Terapi
1.     Mencari stimulus yang memicu gejala gejala
2.    Menaksir/analisa kaitan kaitan bagaimana gejala gejala menyebabkan perubahan tingkah laku klien dari keadaan normal sebelumnya.
3.    Meminta klien membayangkan sejelas jelasnya dan menjabarkannya tanpa disertai celaan atau judgement oleh terapis.
4.    Bergerak mendekati pada ketakutakan yang paling ditakuti yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan
5.    Ulangi lagi prosedur di atas sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

Corey, Gerald. 1991. Theory and Practice of Counseling and Psychotheray, 5th Ed. Brooks/Cole Publishing Company
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama..