I.
Psikoterapi
1.
Pengertian
psikoterapi
Psikoterapi adalah
proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar
lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam
kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan
melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru
atau akan mengalami perceraian.
Umumnya
psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan, masalah
hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu atau
masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah
selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum,
tetapi sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika
Anda tidak sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang
mengunjungi psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan
bahwa orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga
akan jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan
atau pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.
Pengertian
psikoterapi menurut beberapa tokoh:
Watson
& Morse (1977) Bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan
terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan
psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik
untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam
kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.
Corsini
(1989) Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap
pihak biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua
orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yyang
tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena
ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut:
fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan
atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku
(ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul
kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan
beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui
resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Ivey
& Simek-Downing (1980) Psikoterapi adalah proses jangka panjang,
berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih
besar pada struktur kepribadian.
Menurut
pendapat beberapa para ahli diatas, dapat disimpulkan pengertian psikoterapi
adalah proses perawatan atau penyembuhan penyakit kejiwaan melalui teknik dan
metode psikologi, dimana adanya interaksi antara dua orang yang disebut terapis
dan pasien.
2.
Tujuan
Psikoterapi
Berikut
ini akan diuraikan mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa
metode dan teknik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua oran tokoh yakni
Ivey, et al (1987) dan Corey (1991):
Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik, menurut Ivey, et al (1987): membuat
sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi
kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan
menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisi, menurut Corey (1991): membuat
sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam
menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui
konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et
al (1987): untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang
menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata
atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi
pertumbuhannya yang unik.
Tujuan
psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi, menurut Corey (1991): untuk
memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak,
sehingga ia bisa mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa
mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, menurut Ivey, et al (1987): untuk
menghilangkan kesalahan dalam belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola
perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.
Sehubung
dengan terapi behavioristik ini, Ivey, et al (1987) menjelaskan mengenai tujuan
pada terapi kognitif-behavioristik, yakni: menghilangkan cara berfikir yang
menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan
toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.
Corey
(1991) merumuskan mengenai kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif
terapi dengan: menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang
menyalahkan diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup
secara rasional dan toleran.
Tujuan
psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, et al
(1987): agar seseorang menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab
terhadap arah kehidupan seseorang.
Corey
(1991) merumuskan tujuan terapi Gestalt: membantu klien memperoleh pemahaman mengenai
saat-saat dari pengalamannya. Untuk merangsang menerima tanggung jawab dari
dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya
terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
Dapat
disimpulkan bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain :
·
Perawatan akut (intervensi krisis dan
stabilisasi)
·
Rehabilitasi (memperbaiki gangguan
perilaku berat)
·
Pemeliharaan (pencegahan keadaan
memburuk dijangka panjang)
·
Restrukturisasi (meningkatkan perubahan
yang terus menerus kepada pasien).
3.
Unsur
Psikoterapi
Masserman
(Karasu 1984) telah melaporkan tujuh “parameter pengaruh” dasar yang mencakup
unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk :
Ø Peran
sosial (martabat) psikoterapis,
Ø Hubungan
(persekutuan terapeutik),
Ø Hak,
Ø Retrospeksi,
Ø Re-edukasi,
Ø Rehabilitasi,
Ø Resosialisasi
dan rekapitulasi.
Unsur
– unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan
dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi. Ciri-ciri ini dapat diubah dengan
berubahnya tujuan terapeutik, keadaan mental dan kebutuuhan pasien.
4.
Perbedaan
Antara Konseling Dan Psikoterapi
Konseling
merupakan proses wawancara tatap muka antara dua orang (konselor dan klien)
yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada klien, sehingga klien dapat
memecahkan masalahnya dan lebih berkembang dalam kehidupan sekarang dan masa
depannya. Menurut British Association of counseling (dalam Mappiare, 2004),
konseling merupakan suatu proses bekerja dengan orang banyak, dalam suatu
hubungan yang bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis,
psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah.
Sedangkan
psikoterapi merupakan interaksi sistematis klien-terapis memanfaatkan prinsip
psikologis, untuk melakukan pengubahan pikiran, perasaan dan perilaku klien,
dengan tujuan membantu klien mengatasi perilaku abnormal, memecahkan masalah
dan atau berkembang sebagai individu.
Menurut
Mappiare (dalam Hartosujono, 2004) ada sejumlah perbedaan psikoterapi dan
konseling dikemukakan sebagai berikut:
1.
Konseling merupakan bagian dari
psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebih luas dari konseling.
2.
Konseling lebih mengarah pada penyebab
atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebih mengarah pada
pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yang mengarah
pada penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
3.
Dasar konseling adalah filsafat manusia.
Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan individual dengan dasar-dasar psikologi
kepribadian dan psikopatologi. Pada perkembangan selanjutnya konseling juga
memanfaatkan perkembangan teori-teori kepribadian dalam konteks ilmu perilaku.
4.
Dijelaskan oleh Narayana Rao (dalam
Hartosujono, 2004) bahwa tujuan antara konseling dan psikoterapi sama, namun
keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya. Psikoterapi
mencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak. Proses konseling lebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif yang dimiliki klien agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.
mencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak. Proses konseling lebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif yang dimiliki klien agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.
Konseling
dan Psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk membantu/memberikan
layanan pada individu-individu mengenai permasalahan yang bersifat psikologis.
Dengan kata lain Konseling dan Psikoterapi bertujuan memberikan bantuan kepada
klien untuk suatu perubahan tingkah (behauvioral change), kesehatan mental
positif (positive mental health), pemecahan masalah (problen solution),
keefektifan pribadi (personal effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision
making). Dengan demikian seorang konselor perlu didukung oleh pribadi dan
keterampilan yang dapat menunjang keefektifan konseling.
Pada dasarnya antara konseling dan psikoterapi dalam hal tujuan sama-sama ingin membantu agar klien dapat menemukan permasalahan untuk kemudian dapat dipecahkan bersama-sama, namun semua itu hanya dapat terlaksana dengan baik manakala klien dapat membuka diri dan mau diajak kerjasama.
Pada dasarnya antara konseling dan psikoterapi dalam hal tujuan sama-sama ingin membantu agar klien dapat menemukan permasalahan untuk kemudian dapat dipecahkan bersama-sama, namun semua itu hanya dapat terlaksana dengan baik manakala klien dapat membuka diri dan mau diajak kerjasama.
Dan
adapun perbedaannya lebih kepada pendekatan dan cara penanganannya, dimana
konselor sebagai mitra yang dapat memberikan masukkan dan membantu untuk
memunculkan suatu permasalahan yang dirasakan klien baik masalah yang disadari
maupun yang tidak disadari, sedangkan psikoterapis selain menggunakan tehnik
konseling ia juga menggunakan therapy yang sifatnya lebih kepada perubahan pada
prilaku yang sangat substanstib.
Pendekatan
Psikoterapi Terhadap Mental Illnes
Menurut
Chaplin (2011) ada beberapa pendekatan psikoterapi terhadap mental
illness,diantaranya :
·
Biological meliputi keadaan mental
organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John
Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang
berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya
insulin.
·
Psychological meliputi suatu peristiwa
pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic,
kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan
respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga
meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan
lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
·
Sosiological meliputi kesukaran pada sistem
dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga.
Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi
yang memiliki latar belakang kondisi sosio-budaya tertentu.
·
Philosophic kepercayaan terhadap martabat dan
harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan
keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai
sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan
atau pemaksaan.
II. Terapi psikoanalisis
Psikoanalisis adalah sebuah model
perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi
Sumbangan utama psikoanalisis :
1. kehidupan
mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia
bias diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia
2. tingkah
laku diketahui sering ditentukan oleh factor tak sadar
3. perkembangan
pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yg kuat thd kepribadian dimasa
dewasa
4. teori
psikpanalisis menyediakan kerangka kerja yg berharga untuk memahami cara-cara
yg di use oleh individu dalam mengatasi kecemasan
5. terapi
psikoanalisis telah memberikan cara2 mencari keterangan dari ketidaksadaran
melalui analisis atas mimpi2
Konsep2 utama terapi psikoanalisis :
a. struktur
kepribadian
1. id
2. ego
3. super
ego
b. pandangan
ttg sifat manusia
1.
pandangan
freud ttg sifat manusia pd dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan
reduksionistik
c. kesadaran
& ketidaksadaran
1. konsep
ketaksadaran
a. mimpi2
→ merupakan representative simbolik dari kebutuhan2, hasrat2 konflik
b. salah
ucap / lupa → thd nama yg dikenal
c. sugesti
pascahipnotik
d. bahan2
yg berasal dari teknik2 asosiasi bebas
e.
bahan2
yg berasal dari teknik proyektif
d. Kecemasan
1. Adalah
suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu
Fungsi
→ memperingatkan adanya ancaman bahaya
2. 3
macam kecemasan
a. Kecemasan
realistis
b. Kecemasan
neurotic
c. Kecemasan
moral
·
Unsur-unsur terapi psikoanalisis
1. Muncul
gangguan
Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut, kemudian terapis memperkuat konidis psikis dari diri klien, shingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa diri klien akan lebih siap menghadapi dan mencari solusi dengan cepat.
Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut, kemudian terapis memperkuat konidis psikis dari diri klien, shingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa diri klien akan lebih siap menghadapi dan mencari solusi dengan cepat.
2. Tujuan
terapi
Terfokus kepada upaya penguatan diri klien, agar dikemudian hari apabila klien mengalami problem yang sama maka klien akan lebih siap.
Terfokus kepada upaya penguatan diri klien, agar dikemudian hari apabila klien mengalami problem yang sama maka klien akan lebih siap.
3. Peran
terapis
Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melaukukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis, membangun hubungan kerja dengan klien dengan banyak mendengar dan menafsirkan, terapis memebrikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien, mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien.
Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melaukukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis, membangun hubungan kerja dengan klien dengan banyak mendengar dan menafsirkan, terapis memebrikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien, mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien.
·
Tujuan terapi Psikoanalisis
1. Membentuk
kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yg tak disadari
didalam diri klien
2. Focus
pd uapaya mengalami kembali pengalaman masa anak2
·
Fungsi & peran Terapis
1. Terapis
/ analis membiarkan dirinya anonym serta hny berbagi sedikit perasaan &
pengalaman shg klien memproyeksikan dirinya kepada teapis / analis
2. Peran
terapis
a. Membantu
klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hub
personal dlm menangani kecemasan secara realistis
b. Membangun
hub kerja dg klien, dg byk mendengar & menafsirkan
c.
Terapis
memberikan perhatian khusus pada penolakan2 klien
d.
Mendengarkan
kesenjangan2 & pertentangan2 pd cerita klien
·
Teknik dasar Terapi Psikoanalisis
a. Asosiasi
bebas
→ adalah suatu metode pemanggilan
kembali pengalaman2 masa lalu & pelepasan emosi2 yg berkaitan dg situasi2
traumatik di masa lalu
b. Penafsiran
→
Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi2 bebas, mimpi2, resistensi2 dan transferensi
c. Analisis
Mimpi
→
Suatu prosedur yg penting untuk menyingkap bahan2 yg tidak disadari dan
memberikan kpd klien atas beberapa area masalah yg tak terselesaikan
d. Analisis
dan Penafsiran Resistensi
→
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan2 yg ada dibalik resistensi
shg dia bias menanganinya
e. Analisis
& Penafsiran Transferensi
→
Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis krn mendorong klien untuk menghidupkan
kembali masa lalu nya dalam terapi
III. Terapi Humanistik Eksistensial
A. Konsep Dasar Pandangan
Humanistik Tentang Kepribadian
Banyak sekali teori
yang mengemukakan tentang kepribadian, akan tetapi dalam pembahasan makalah ini
hanya akan membahas mengenai teori kepribadian Humanistic, Maslow, Dan
Kelly. Dalam pandangan Humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan
perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan
perilaku mereka. Aliran Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis
bagi pengembangan potensi manusia, disebut sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi
sebagai ilmu tentang manusia. Maslow menekankan bahwa individu merupakan
kesatuan yang terpadu dan terorganisasi. Kelly meyakini bahwa tidak ada
kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absolut.
Teori humanistik berkembang sejak tahun
1950-an sebagai teori yang menentang
teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik
terhadap dua teori ini, adalah bahwa kedua-duanya
bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori freud di
kritik, karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan oleh
dorongan yang bersifat primitif, dan animalistik (hewani). Sementara
behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu asyik denagn penelitiannya
terhadap binatang, dan memganalisis kepribadian secara pragmentaris. Kedua
teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai bidak atau pion yang tak
berdya dikontrol oleh lingkungan dan masa lalu, dan sedikit sekali
kemampuan untuk mengarahkan diri.
Teori humanistik dipandang sebagai
“third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternatif
dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanlisis dan
behavioristik). Kekuatan ketiga ini disebut humanistik karena memiliki minat
yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan
sebagai “Orientasi eoritis yang menekankan kualitas manusia yang
unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi
untuk mengembangkan dirinya.
B. Unsur-Unsur Terapi
1. Munculnya Gangguan
Model humanistik
kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar
konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia
untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak
pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan
realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta
merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi
kemungkinan pernah hadir ketiadaan. Pencarian makna dalam kehidupan
masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan
humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang
muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
2. Tujuan Terapi
Pada dasarnya, tujuan
terapi eksistensial adalah :
a. meluaskan kesadaran diri klien
a. meluaskan kesadaran diri klien
b. meningkatkan kesanggupan pilihannya
c. menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
c. menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
3. Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para ahli
psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut
:
·
Mengakui pentingnya pendekatan dari
pribadi ke pribadi
·
Menyadari peran dan tanggung jawab
terapis
·
Mengakui sifat timbale balik dari
hubungan terapeutik.
·
Berorientasi pada pertumbuhan
·
Menekankan keharusan terapis terlibat
dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
·
Mengakui bahwa putusan-putusan dan
pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
·
Memandang terapis sebagai model, bisa
secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan
positif.
·
Mengakui kebebasan klien untuk
mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya
sendiri.
·
Bekerja kea rah mengurangi
kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
Teknik-teknik
Konseling Eksistensial
Yang
paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif
si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan
pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu,
dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May
&Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial menggunakan metode yang mencakup
ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga
dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu
sisi, mereka
menggunakan
teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita
klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan
mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain.
Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer
& Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis
mengesampingkan teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan,
rutinitas, dan manipulasi Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah
nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara
efektif menantang dan memahami klien.
Teknik-teknik
yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
·
Penerimaan
·
Rasa hormat
·
Memahami
·
Menentramkan
·
Memberi dorongan
·
Pertanyaan terbatas
·
Memantulkan pernyataan dan perasaan
klien
·
Menunjukan
sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
·
Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang
bermakna
IV. Person Centered Therapy (Rogers)
A.
Konsep
Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku / Kepribadian
Hubungan
tarapeutik Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang
berfokus pada dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers
adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan
pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli
terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang
menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya.
Menurut Rogers, klien benar – benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan
ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat
menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui
pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh
harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.
Konsep Carl Rogers
tentang kepribadian
Berbagai
istilah dan konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai
kepribadian dan perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam
orientasi sebagai berikut :
1. Pengalaman
Pengalaman
mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait
akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita
seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam
kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran
masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin
terbatas, setiap individu adalah satu – satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2. Realitas
Untuk
tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi
individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang
memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang
akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat
dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan
kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa
politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi
hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam
terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3. Organisme
Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang
mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut
akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih
jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku
di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat
memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia
memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri
sebagai pejabat.
4. Organisme
mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini
adalah prinsip utama dalam tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart
Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya
beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah
contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori
kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan
eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk
menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong
pengembangan optimal dari organisme total.
5. Frame
Internal Referensi
Ini
adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna
yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang
memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana
sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal
ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6. Konsep
Diri
Istilah
– istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari
persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I”
atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai
– nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan
cairan dan proses perubahan.
7. Symbolization
Ini
adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak
simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang –
orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan
berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten
dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan
khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan
sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8. Penyesuaian
Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal
ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu
sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur
kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman
kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak
ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9. Organismic
Valuing Process
Ini
adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti
indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan
sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan”
dan juga dengan apa yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic
konsisten dengan hipotesis.
10. The
Fully Functioning Person
Rogers
mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti
Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan,
memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui
pengalaman mereka.
B. Unsur
– Unsur Terapi (Person – Centered)
1. Peran
Terapis
Menurut
Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan
sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien
melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang
memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik –
teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai
instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu
klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis
menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali.
Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan
di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa
yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah
esensial.
2. Tujuan
Terapis
Rogers
berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai –
nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi
adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan
jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh
pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih
dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima
oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata –
kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
C. Teknik
– Teknik Terapi
Untuk
terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih
penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan
sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empathy
2. Positive
Regard (acceptance)
3. Congruence
Empati adalah
kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan
pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama
dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang
ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor
yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang
membawa perubahan dan pembelajaran.
Positive Regard yang
di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam
untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.
Congruence / Kongruensi adalah
kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau
pulasan – pulasan.
Menurut Rogers
perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam
suatu hubungan.
Sumber :
Gunarsa,
Singgih D. 1996. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../TERAPI+PSIKOANALISIS.doc
Tomb, David A. Buku Saku Psikiatri Edisi 6.
Naisaban, Ladislaus. Para Psikolog Terkemuka Dunia.
Naisaban, Ladislaus. Para Psikolog Terkemuka Dunia.
http://setiawanabdee.blogspot.co.id/2013/03/psikoterapi-person-centered-therapy.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar