Senin, 09 Januari 2017

kepuasan kerja



1.      Definisi Kepuasan Kerja
Menurut Robbins (2001) mengemukakan bahwa kepuasan kerja adalah sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Pekerjaan menurut interaksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada kondisi kerja yang sering kurang dari ideal, dan hal serupa lainnya.
Sedangkan menurut Locke juga mencatat bahwa perasaan-perasaan yang berhubungan dengan kepuasan atau ketidakpuasan kerja cenderung lebih mencerminkan penaksiran dari tenaga kerja tentang pengalaman-pengalaman kerja pada waktu sekarang dan lampau daripada harapan-harapan untuk masa yang akan datang. Menurut Locke, juga dapat disimpulkan adanya dua unsur yang penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar.
2.      Dimensi Kepuasan Kerja
Dalam meneliti kepuasan kerja, peneliti harus menggunakan ukuran. Ukuran suatu konsep adalah variabel. Variabel satu dengan variabel lain ditentukan berdasarkan dimensi konsep. Dimensi pengukuran kepuasan kerja cukup bervariasi. Stephen Robbins mengajukan empat variabel yang mampu mempengaruhi kepuasan kerja seseorang yaitu:

(1)    Pekerjaan menantang secara mental;
Pekerjaan yang menantang secara mental – Pekerja cenderung memiliki pekerjaan yang memberikan kesempatan mereka menggunakan keahlian dan kemampuan serta menawarkan variasi tugas, kebebasan, dan umpan balik seputar sebaik mana pekerjaan yang mereka lakukan. Pekerjaan yang kurang menantang cenderung membosankan, sementara pekerjaan yang terlalu menantang cenderung membuat frustasi dan rasa gagal.
(2)    Reward memadai;
Reward yang memadai – Kecenderungan pekerja dalam menginginkan sistem penghasilan dan kebijakan promosi yang diyakini adil, tidak mendua, dan sejalan dengan harapannya.
(3)    Kondisi kerja mendukung
 Kondisi kerja yang mendukung – Perhatian pekerja pada lingkungan kerja, baik kenyamanan ataupun fasilitas yang memungkinkan mereka melakukan pekerjaan secara baik.
(4)    Kolega mendukung
Kolega yang mendukung – Pekerja, selain bekerja juga mencari kehidupan sosial. Tidak mengejutkan bahwa dukungan rekan kerja mampu meningkatkan kepuasan kerja seorang pekerja






3.        Faktor-faktor Penentu Kepuasan Kerja
Banyak faktor yang telah diteliti sebagai faktor-faktor yang mungkin menentukan kepuasan kerja . berikut ditinjau faktor-faktor ciri-ciri intrinsik dari pekerjaan, gaji dan penyeliaan.
a.    Ciri-ciri intrinsik pekerjaan
1.    Keragaman keterampilan
2.    Jati diri tugas ( task identity )
3.    Tugas yang penting ( task significance )
4.    Otonomi
5.    Pemberian balian pada pekerjaan membantu meningkatkan tingkat kepuasan kerja
b.    Gaji penghasilan, Imbalan yang dirasakan adil
Herzberg memasukkan faktor gaji/imbalan ke dalam faktor kelompok Hygiene. Jika dianggap gajinya terlalu rendah, tenaga kerja akan merasa tidak puas. Namun jika dirasakan tinggi atau dirasakan sesuai dengan harapan, maka istilah Herzberg adalah tenaga kerja tidak lagi puas. Artinya tidak ada dampak pada motivasi kerjanya.
c.    Penyeliaan
Penyeliaan merupakan faktor juga dari kelompok faktor hygiene dari Herzberg. Namun jika cara penyeliaan dilakukan oleh atasan yang memiliki ciri-ciri pemimpin transformasional maka tenaga kerja akan meningkatkan motivasiya dan sekaligus dapat merasa puas dengan pekerjannya.
d.      Rekan-rekan sejawat yang menunjang
e.       Kondisi kerja yang menunjang




Daftar Pustaka:
Steve M. Jex, Organizational Psychology: A Scientist Practitioner Approach.New York : John Wiley & Sons, 2002
Munandar, A.S. (2014). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: UI Press
Wexley, K.N., Yukl, G.A., 1977, Organizational Behavior and Personal Psychology, Richard D. Irwin Inc., Homewood, Illinois.
Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu:

Riset: Kepuasan Kerja Pengaruhi Kesehatan di Usia Senja


Liputan6.com, Jakarta - Setiap orang memiliki ukuran keberhasilan kariernya masing-masing. Hal ini juga mempengaruhi kepuasan mereka kala bekerja. Riset terbaru yang dilakukan oleh The Ohio State University mengungkap, kepuasan kerja yang dialami ketika usia 20 tahun ternyata mempengaruhi kesehatan di usia tua.
Melansir laman CBS, Minggu (30/10/2016), penelitian tersebut menitikberatkan pada hubungan kepuasan kerja yang dirasakan karyawan dengan kualitas kesehatan yang bisa didapat.
Peneliti dari Ohio State University menggunakan data yang didapat dari tahun 1979. Mereka mengikuti perkembangan karier subjek penelitian dari usia 25 hingga 29 tahun.
Para peneliti kemudian mengklasifikasi kepuasan karyawan ke dalam empat tipe, dari yang merasakan kepuasan yang rendah hingga sangat bahagia denan pekerjaannya.
Hasilnya, pekerja yang merasa bahagia dengan pekerjaannya di usia 20 tahun mampu memiliki kualitas kesehatan paling baik. Sebaliknya, pekerja yang merasa kualitas pekerjaannya buruk akan mengalami masalah kesehatan ketika mereka mulai memasuki usia 40 tahun.
"Kami menemukan bahwa orang yang tidak puas dengan pekerjaannya saat usia 20 hingga 30 tahun memiliki kualitas kesehatan paling buruk dibanding mereka yang merasa bahagia dengan pekerjaannya. Pekerja yang mengalami penurunan kepuasan kerja juga memiliki kondisi kesehatan yang buruk," ungkap Direktur Penelitian The Ohio State University Jonathan Dirlam.
Dirlam juga menyebutkan berbagai contoh masalah kesehatan yang bisa terjadi bagi orang yang tidak puas pada pekerjan. Pekerja akan mudah terkena depresi, masalah tidur, hingga penurunan kesehatan mental.
Penelitian tersebut dipresentasikan pada rapat tahunan American Sociological Association. Lebih lanjut Dirlam menyarankan, akan lebih baik memilih pekerjaan dengan gaji lebih kecil namun bisa membuat pekerja puas. Hal ini dinilai penting karena sebagian besar orang akan menghabiskan setengah masa hidupnya untuk bekerja.
"Akan lebih baik memilih pekerjaan yang memiliki gaji lebih rendah namun bisa memberi kepuasan, dibanding pekerjaan bergaji tinggi tapi membuat Anda tidak bahagia. Rata-rata orang menghabiskan lebih dari setengah umur hidupnya untuk bekerja. Penting bagi mereka untuk bisa menemukan kebahagiaan saat bekerja," jelasnya.


Analisis saya tentang artikel di atas adalah kesehatan di masa senja rupanya memang terpengaruh juga salah satunya dari kepuasan bekerja saat kita masih di bawah masa senja , yaitu antara umur 20 sampai dengan 30 tahun , dimana bila di umur segitu sudah merasakan ketidak puasan dalam bekerja akan mempengaruhi kesehatan di masa tua , karena hal ini menyangkut dengan masalah psikis kita , dan juga mental kita. Di atas juga di sebutkan dalam beberapa kasus tentang ketidakpuasan dalam bekerja yang terjadi pada masa muda dan berpengaruh buruk pada masa senja. ,maka dari itu kita patutnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang seperti gaji upah dan sebagainya dan belajar menikmati segala prosesnya sehingga kita bisa terhindar dari ketidak puasan kerja di usia muda yang akan bisa berpengaruh di usia senja.