1.
Definisi Kepuasan Kerja
Menurut Robbins (2001) mengemukakan
bahwa kepuasan kerja adalah sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap
pekerjaannya. Pekerjaan menurut interaksi dengan rekan sekerja dan atasan,
mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada
kondisi kerja yang sering kurang dari ideal, dan hal serupa lainnya.
Sedangkan menurut Locke juga
mencatat bahwa perasaan-perasaan yang berhubungan dengan kepuasan atau
ketidakpuasan kerja cenderung lebih mencerminkan penaksiran dari tenaga kerja
tentang pengalaman-pengalaman kerja pada waktu sekarang dan lampau daripada
harapan-harapan untuk masa yang akan datang. Menurut Locke, juga dapat
disimpulkan adanya dua unsur yang penting dalam kepuasan kerja, yaitu
nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar.
2.
Dimensi Kepuasan Kerja
Dalam meneliti kepuasan kerja,
peneliti harus menggunakan ukuran. Ukuran suatu konsep adalah variabel.
Variabel satu dengan variabel lain ditentukan berdasarkan dimensi konsep.
Dimensi pengukuran kepuasan kerja cukup bervariasi. Stephen Robbins mengajukan
empat variabel yang mampu mempengaruhi kepuasan kerja seseorang yaitu:
(1) Pekerjaan
menantang secara mental;
Pekerjaan yang menantang secara mental – Pekerja
cenderung memiliki pekerjaan yang memberikan kesempatan mereka menggunakan
keahlian dan kemampuan serta menawarkan variasi tugas, kebebasan, dan umpan
balik seputar sebaik mana pekerjaan yang mereka lakukan. Pekerjaan yang kurang
menantang cenderung membosankan, sementara pekerjaan yang terlalu menantang
cenderung membuat frustasi dan rasa gagal.
(2) Reward
memadai;
Reward yang memadai – Kecenderungan pekerja dalam
menginginkan sistem penghasilan dan kebijakan promosi yang diyakini adil, tidak
mendua, dan sejalan dengan harapannya.
(3) Kondisi
kerja mendukung
Kondisi kerja yang mendukung – Perhatian
pekerja pada lingkungan kerja, baik kenyamanan ataupun fasilitas yang
memungkinkan mereka melakukan pekerjaan secara baik.
(4) Kolega
mendukung
Kolega yang mendukung – Pekerja, selain bekerja
juga mencari kehidupan sosial. Tidak mengejutkan bahwa dukungan rekan kerja
mampu meningkatkan kepuasan kerja seorang pekerja
3.
Faktor-faktor Penentu Kepuasan Kerja
Banyak
faktor yang telah diteliti sebagai faktor-faktor yang mungkin menentukan
kepuasan kerja . berikut ditinjau faktor-faktor ciri-ciri intrinsik dari
pekerjaan, gaji dan penyeliaan.
a.
Ciri-ciri
intrinsik pekerjaan
1.
Keragaman
keterampilan
2.
Jati diri
tugas ( task identity )
3.
Tugas yang
penting ( task significance )
4.
Otonomi
5.
Pemberian
balian pada pekerjaan membantu meningkatkan tingkat kepuasan kerja
b.
Gaji penghasilan,
Imbalan yang dirasakan adil
Herzberg
memasukkan faktor gaji/imbalan ke dalam faktor kelompok Hygiene. Jika dianggap gajinya terlalu rendah, tenaga kerja akan
merasa tidak puas. Namun jika dirasakan tinggi atau dirasakan sesuai dengan
harapan, maka istilah Herzberg adalah tenaga kerja tidak lagi puas. Artinya
tidak ada dampak pada motivasi kerjanya.
c.
Penyeliaan
Penyeliaan merupakan faktor juga dari kelompok faktor hygiene dari
Herzberg. Namun jika cara penyeliaan dilakukan oleh atasan yang memiliki
ciri-ciri pemimpin transformasional maka tenaga kerja akan meningkatkan
motivasiya dan sekaligus dapat merasa puas dengan pekerjannya.
d.
Rekan-rekan
sejawat yang menunjang
e.
Kondisi
kerja yang menunjang
Daftar Pustaka:
Steve M. Jex, Organizational Psychology: A Scientist Practitioner
Approach.New York : John Wiley & Sons, 2002
Munandar, A.S. (2014). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: UI
Press
Wexley, K.N., Yukl, G.A., 1977, Organizational Behavior and Personal
Psychology, Richard D. Irwin Inc., Homewood, Illinois.
Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga
macam yang lazim dikenal yaitu:
Riset: Kepuasan Kerja Pengaruhi Kesehatan di Usia Senja
Liputan6.com, Jakarta -
Setiap orang memiliki ukuran keberhasilan kariernya masing-masing. Hal ini juga
mempengaruhi kepuasan mereka kala bekerja. Riset terbaru yang dilakukan oleh
The Ohio State University mengungkap, kepuasan kerja yang dialami ketika usia
20 tahun ternyata mempengaruhi kesehatan di usia tua.
Melansir laman CBS, Minggu
(30/10/2016), penelitian tersebut menitikberatkan pada hubungan kepuasan kerja
yang dirasakan karyawan dengan kualitas kesehatan yang bisa didapat.
Peneliti dari Ohio State
University menggunakan data yang didapat dari tahun 1979. Mereka mengikuti
perkembangan karier subjek penelitian dari usia 25 hingga 29 tahun.
Para peneliti kemudian
mengklasifikasi kepuasan karyawan ke dalam empat tipe, dari yang merasakan
kepuasan yang rendah hingga sangat bahagia denan pekerjaannya.
Hasilnya, pekerja yang merasa
bahagia dengan pekerjaannya di usia 20 tahun mampu memiliki kualitas kesehatan
paling baik. Sebaliknya, pekerja yang merasa kualitas pekerjaannya buruk akan
mengalami masalah kesehatan ketika mereka mulai memasuki usia 40 tahun.
"Kami menemukan bahwa orang
yang tidak puas dengan pekerjaannya saat usia 20 hingga 30 tahun memiliki
kualitas kesehatan paling buruk dibanding mereka yang merasa bahagia dengan
pekerjaannya. Pekerja yang mengalami penurunan kepuasan kerja juga memiliki
kondisi kesehatan yang buruk," ungkap Direktur Penelitian The Ohio State
University Jonathan Dirlam.
Dirlam juga menyebutkan berbagai
contoh masalah kesehatan yang bisa terjadi bagi orang yang tidak puas pada
pekerjan. Pekerja akan mudah terkena depresi, masalah tidur, hingga penurunan
kesehatan mental.
Penelitian tersebut
dipresentasikan pada rapat tahunan American Sociological Association. Lebih
lanjut Dirlam menyarankan, akan lebih baik memilih pekerjaan dengan gaji lebih
kecil namun bisa membuat pekerja puas. Hal ini dinilai penting karena sebagian
besar orang akan menghabiskan setengah masa hidupnya untuk bekerja.
"Akan lebih baik memilih
pekerjaan yang memiliki gaji lebih rendah namun bisa memberi kepuasan,
dibanding pekerjaan bergaji tinggi tapi membuat Anda tidak bahagia. Rata-rata
orang menghabiskan lebih dari setengah umur hidupnya untuk bekerja. Penting
bagi mereka untuk bisa menemukan kebahagiaan saat bekerja," jelasnya.
Analisis saya tentang artikel di
atas adalah kesehatan di masa senja rupanya memang terpengaruh juga salah
satunya dari kepuasan bekerja saat kita masih di bawah masa senja , yaitu
antara umur 20 sampai dengan 30 tahun , dimana bila di umur segitu sudah
merasakan ketidak puasan dalam bekerja akan mempengaruhi kesehatan di masa tua
, karena hal ini menyangkut dengan masalah psikis kita , dan juga mental kita. Di
atas juga di sebutkan dalam beberapa kasus tentang ketidakpuasan dalam bekerja
yang terjadi pada masa muda dan berpengaruh buruk pada masa senja. ,maka dari
itu kita patutnya bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang seperti gaji
upah dan sebagainya dan belajar menikmati segala prosesnya sehingga kita bisa
terhindar dari ketidak puasan kerja di usia muda yang akan bisa berpengaruh di
usia senja.