MOTIVASI
Pengertian motivasi
Terdapat banyak pendapat tentang
pengertian motivasi. Berikut adalah beberapa pengertian motivasi menurut para
ahli, diantaranya :
·
Menurut indriyo Giitosudarmo dan Nyoman Sudita (1997) yang dimaksud dengan
motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakan,
mengarahkan perilakunya untuk memenuhi tugas tertentu.
·
Menurut Robbins dan Coulther (2004) motivasi adalah kesediaan untuk
mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang
dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan
individu tertentu.
·
Menurut Robert Heller (1998) menyatakan bahwa motivasi adalah keinginan
untuk bertindak.
·
McShane dan Von Glinow (2010) mengatakan motivasi sebagai kekuatan dalam
diri orang yang mempengaruhi arah (direction), intensitas (intensity), dan
ketekunan (persistance) perilaku sukarela.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat
dikatakan bahwa motivasi itu adalah suatu kebutuhan yang mendorong seseorang
untuk berbuat “sesuatu”. Adanya kebutuhan ini, menyebabkan orang bertingkah
laku tertentu dalam usahanya mencapai tujuan.
Proses terjadinya motivasi
Proses timbulnya motivasi seseorang antara
lain adalah :
a.
Kebutuhan yang belum terpenuhi
b.
Mencari dan memilih cara lain untuk memuaskan kebutuhan
c.
Perilaku yang diarahkan pada tujuan
d.
Evaluasi prestasi
e.
Imbalan atau hukuman
f.
Kepuasan
g.
Menilai kembali kebutuhan yang belum terpenuhi
Newstrom (2011) melihat bahwa motivasi
memfokuskan pada achievement, affilation, dan power. Berikut adalah penjelasan
lebih lanjut
a)
Achievement Motivation
Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang dimiliki banyak orang untuk
mengejar dan mencapai tujuan menantang. Individu dengan orang ini mengharapkan
mencapai sasaran dan menaiki tangga keberhasilan.
b)
Affilation motivation
Motivasi untuk berafiliasi merupakan suatu dorongan untuk berhubungan
dengan orang atas dasar sosial, bekerja dengan orang yang cocok dan
berpengalaman dengan perasaan sebagai komunitas. Orang dengan motif aliansi akan
bekerja lebih baik apabila mereka dilengkapi dengan sikap dan kerja sama yang
menyenangkan.
c)
Power Motivation
Motivasi akan kekuasaan merupakan suatu dorongan untuk mempengaruhi orang,
melakukan pengawasan, mengubah situasi. Orang yang termotivasi dasar kekuasaan
mengharapkan menciptkan dampak pada organisasi dan bersedia mengambil resiko
dengan melakukannya. Apabila kekuasaan telah diperoleh, mungkin akan
dipergunakan secara konstruktif dan destruktif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
A. Karakteristik individu
Ø Minat
Ø Sikap terhadap diri
sendiri, pekerjaan, dan situasi pekerjaan.
Ø Kebutuhan individual
Ø Kemampuan atau kompentensi
Ø Pengetahuan tentang
pekerjaan
Ø Emosi, suasana hati,
perasaan keyakinan dan nilai-nilai.
B. Faktor-faktor pekerjaan
a. Faktor lingkungan
perkerjaan
Ø Gaji dan benefit yang
diterima
Ø Kebijakan-kebijakan
perusahaan
Ø Supervisi
Ø Hubungan antar manusia
Ø Kondisi pekerjaan
seperti jam kerja, lingkungan fisik, dan sebagainya
Ø Budaya organisasi
b. Faktor dalam pekerjaan
Ø Sifat pekerjaan
Ø Rancangan
tugas/pekerjaan
Ø Pemberian pengakuan
terhadap prestasi
Ø Tingkat/besarnya
tanggung jawab yang diberikan
Ø Adanya perkembangan dan
kemajuan dalam pekerjaan
Ø Adanya kepuasan dari
pekerjaan.
Teori-teori motivasi
Setiap pimpinan organisasi pasti mendambakan suatu situasi di mana seluruh
anggota punya gairah kerja yang produktifitas yang tinggi. Untuk mewujudkannya berbagai
upaya sering telah dilakukan namun dambaan tetap tinggal dambaan, realitas yang
ada jauh dari kenyataan.
Teori motivasi yang telah banyak dicetuskan para pakar pada hakekatnya
mengupas tentang mengapa dan bagaimana orang terlibat dalam berprilaku kerja
tertentu dan telah berkembang dari waktu ke waktu
Robbins (2001) membagi teori motivasi itu menjadi dua bagian yakni teori
dini tentang motivasi, yakni teori yang lahirnya lebih awal, dan teori
kontemporer tentang motivasi adalah deretan teori motivasi yang lebih baru.
Teori-teori dini tentang motivasi
Teori Hierarki Kebutuhan
Dari Abraham Maslow
Abraham Maslow, Ia beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan
di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih
dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi
Kebutuhan-kebutuhan ini sering disebut Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan
dasar yang digambarkan sebagai sebuah hierarki atau tangga yang menggambarkan
tingkat kebutuhan. Terdapat lima tingkat kebutuhan dasar,
yaitu :
·
Kebutuhan fisiologis (Faali) seperti sandang, pangan, papan, seks, dan
kebutuhan pokok ragawi lainnya.
·
Kebutuhan rasa aman (keselamatan dan perlindungan) terhadapat ancaman fisik
dan emosional seperti keamanan, kemerdekaan, dan perlindungan.
·
Kebutuhan sosial (seperti berkumpul dan berkawan)
·
Kebutuhan penghargaan seperti harga diri, otonomi, prestasi, status,
pengakuan dan perhatian.
·
Kebutuhan aktualisasi diri seperti pengembangan potensi secara maksimal.
Seorang karyawan, jika sudah
memenuhi kebutuhan hirarki maslow dari kebutuhan fisiologis, seperti membangun
rumah tangganya dengan hasil gaji yang di capai, merasa aman dan nyaman dengan
perusahaan yang disana ia meniti karirnya, hingga kebutuhan self esteem (harga
diri/pengakuan diri) yang dalam arti karyawan tersebut sudah tercatat sebagai
karyawan yang bisa naik jabatan atau dipromosikan mengisi kursi manajer,
kemudian mengaktualisasi dirinya dengan mengikuti seminar-seminar yang
membangun jiwa kepemimpinannya, hingga ketika ia mendapatkan prestise sebagai
manajer, kemudian ia melakukan aktualisasi lebih lanjut dengan memberi motivasi
terhadap bawahannya.
Teori Motivasi Penguatan
Perilaku adalah fungsi dari konsekuensi yang mengarah kepada kosekuensi
yang positif dan menghindari konsekuensi yang tidak menyenagkan. Ada dua jenis
konsekuensi yang dapat dipergunakan manajer untuk memodofikasi motivasi anak
buah yaitu sebagai berikut :
·
Penguatan positif, memberikan
penghargaan dan kenaikan imbalan atas prestasi bagus karyawan.
·
Penguatan negatif/penghindaran, yaitu
mencegah dan menghilangkan akibat yang tidak menyenangkan. Karyawan bekerja
keras karena menghindari hal-hal yang bisa membuatnya tidak menyenangkan. hukuman
untuk menghindari pengulangan perilaku yang tidak diinginkan.
Implikasinya adalah seorang pegawai yang datang
terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai
ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan
sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada
modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
Teori Motivasi Harapan
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work
And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori
Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang
ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya
akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang
sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya,
yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang
sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan
sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan
akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya,
jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk
berupaya akan menjadi rendah. Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen
sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena
penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam
menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling
tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena
pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti
apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya. Teori pengharapan
yang dikembangkan oleh Vroom menyatakan bahwa penghargaan yang dihasilkan oleh
usaha dalam suatu aktivitas tertentu akan membawa hasil yang diinginkan yang
menentukan motivasi kerja. Implikasi praktis dari teori Harapan dalam perilaku
organisasi adalah pada saat karyawan telah lembur kerja selama tiga hari-hari
berturut-turut kemudian menginnginkana waktu libur dua hari kemudian karena
karyawan tersebut telah melakukan lembur selama tiga hari berturut-turut maka
kantor memberikannya libur.
Teori Motivasi Tujuan
Menurut Edwin Locke,
tujuan-tujuan yang cukup sulit, khusus dan yang pernyataannya jelas dan dapat
diterima oleh tenaga kerja, akan menghasilkan unjuk-kerja yang lebih tinggi
daripada tujuan-tujuan yang taksa, tidak khusus, dan yang mudah dicapai. Teori
tujuan, sebagaimana dengan teori keadilan didasarkan pada intuitif yang solid. bahwa
tujuan yang khusus akan sulit menghantar ke kinerja yang lebih tinggi. Hal ini
dibuktikan benar, adanya tujuan sulit yang spesifik akan menghasilkan kinerja
lebih tinggi bila diterima dengan baik. Kespesifikan tujuan itu sendiri akan
bertindak sebagai ransangan internal. Tetapi, adalah logis juga untuk
mengandaikan bahwa tujuan yang mudah akan lebih besar kemungkinan untuk
diterima. Tetapi sekali seorang karyawan menerima tugas yang sulit, ia akan
mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi sampai tugas itu dicapai, diturunkan,
atau ditinggalkan. Ada beberapa factor yang mempengaruhi hubungan
tujuan-kinerja, yaitu: umpan balik, komitmen tujuan, kefektifan diri yang
memadai, dan budaya nasional. Implikasi dari teori ini adalah seseorang yang
ingin mencalonkan dirinya untuk jabatan yang tertinggi maka harus menyebutkan/
memberitahukan tujuan visi dan misinya untuk dapat dipercayai oleh anggotanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar