Ada
beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli yaitu:
·
Pengertian
kepemimpinan menurut Hemhill dan Coons adalah perilaku dari seorang individu
yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin
dicapai bersama (shared goals).
·
Pengertian
kepemimpinan menurut Tannenbaum, Weschler dan Masarik menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi
tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu
atau beberapa tujuan tertentu”.
·
Pengertian
kepemimpinan menurut Stogdill menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pembentukan
awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi. Pengertian
kepemimpinan menurut Katz dan Kahn menyatakan bahwa adalah peningkatan pengaruh
sedikit demi sedikit pada , dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap
pengarahan-pengarahan rutin organisasi. Itulah tadi beberapa pengertian kepemimpinan
menurut pandangan para ahli.
Kebanyakan
pengertian kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut
sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang disengajai untuk
dijalankan oleh seseorang terhadap organisasi atau kelompok. Berbagai
pengertian kepemimpinan yang sudah ditawarkan tapi kelihatannya tidak berisi
hal-hal selain itu. Pengertian tersebut berbeda dalam berbagai aspek, termasuk
didalamnya siapa yang menggunakan pengaruh, sasaran yang ingin diperoleh dari
pengaruh tersebut, cara bagaimana pengaruh tersebut digunakan, serta hasil dari
uasaha menggunakan pengaruh tersebut. Perbedaan-perbedaan tersebut bukan hanya
merupakan sebuah hal akademis yang dicari-cari. Ia mencerminkan adanya
ketidaksesuaian yang mendalam mengenai identifikasi dari para pemimpin serta
proses kepemimpinan. Perbedaan-perbedaan didalam pemilihan fenomena untuk
melakukan penyelidikan dan kemudian menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam
mengeinterpretasikan hasilnya.
Teori-teori
kepemimpinan (Leadership theory)
Teori
kepemimpinan yaitu teori genetis dimana menjelaskan bahwa seseorang akan dapat
menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan untuk bisa menjadi pemimpin; dia
telah memiliki bakat dan mempunyai pembawaan untuk bisa menjadi pemimpin.
Menurut teori kepemimpinan seperti teori genetis ini mengasumsikan bahwa tidak
setiap orang dapat menjadi pemimpin, hanya beberapa orang yang memiliki
pembawaan dan bakat saja yang dapat menjadi pemimpin. Hal tersebut memunculkan
“Pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk tapi dilahirkan”.
Teori
kepemimpinan yang kedua yaitu teori sosial yang menyatakan bahwa seseorang akan
dapat menjadi pemimpin karena lingkungannya yang mendukung, keadaan dan waktu
memungkinkan ia bisa menjadi pemimpin. Setiap orang dapat memimpin asal
diberikan kesempatan dan diberikan pembinaan untuk dapat menjadi pemimpin meskipun ia tidak
memiliki pembawaan atau bakat. Adapun istilah dari teori kepemimpinan sosial
ini yaitu Pemimpin itu dibentuk bukan dilahirkan.
Teori
kepemimpinan yang ketiga yaitu teori ekologis, dalam teori kepemimpinan
ekologis ini menyatakan bahwa gabungan dari teori genetis dan sosial, dimana
seseorang akan menjadi pemimpin membutuhkan bakat dan bakat tersebut mesti
selalu dibina agar berkembang. Kemungkinan untuk bisa mengembangkan bakat
tersebut itu tergantung dari lingkungannya.
Teori
kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan situasi
ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada dalam
situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam
situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya tersebut
tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan bisa
jadi menjadi pengikut saja.
Oleh
karena itu, jika seorang ingin menjadi pemimpin dan ingin meningkatkan
kecakapannya dan kemampuannya dalam memimpin maka dibutuhkan untuk bisa
mengetahui segala ruang lingkup gaya kepemimpinan yang efektif. Adapun para
ahli dalam bidang kepemimpinan sudah meneliti dan mengembangkan beberapa gaya
kepemimpinan yang berbeda dimana sesuai dengan adanya evolusi dari teori
kepemimpinan. Untuk ruang lingkupnya, gaya kepemimpinan terbagi atas tiga
pendekatan yaitu pendekatan sifat kepribadian pemimpin, dan pendekatan perilaku
pemimpin dan pendekatan situasional atau kontingensi.
Tipe
dan Gaya kepemimpinan
Pemimpin
itu memiliki sifat, kebiasaan dan watak serta kepribadian yang khas. Dari
tingkah laku dan gayanya lah yang dapat membedakan dirinya dibanding orang
lain. Gaya tentunya akan selalu dapat mewarnai perilaku dan tipe seseorang
dalam pemimpin atau gaya kepemimpinan.
Gaya
kepemimpinan
Adapun
gaya-gaya kepemimpinan yaitu sebagai berikut :
-
Gaya
kepemimpinan otokratis
Gaya
ini terkadang disebut sebagai kepemimpinan yang terpusat pada diri pemimpin
atau gaya direktif. Gaya otokratis ini ditandai dengan adanya petunjuk yang
sangat banyak sekali yang berasal dari pemimpin dan tidak ada satupun peran
para anak buah dalam merencanakan dan sekaligus mengambil suatu keputusan. Gaya
kepemimpinan otokratis ini akan menentukan sendiri keputusan, peran, bagaimana,
kapan dan bilamana secara sepihak. Yang pasti tugas yang diperintahkan mesti
dilaksanakan. Paling sangat menonjol dalam gaya kepemimpinan otokratis ini
adalah seseorang akan memberikan perintah dan mesti dipatuhi. Ia akan
memerintah berdasarkan dari kemampuannya untuk menjatuhkan hukuman serta
memberikan hadiah. Gaya kepemimpinan otokratis adalah suatu kemampuan dalam
mempengaruhi orang lain yang ada disekitar agar mau bersedia berkerjasama dalam
mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan ditempuh atas segala cara kegiatan
yang akan dijalankan atas dasar putusan dari pemimpin.
Adapun
ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis ini yaitu wewenang mutlak itu terpusat
dari pemimpin, keputusan akan selalu dibuat oleh pemimpin, kebijakan akan
selalu dibuat oleh pemimpin, komunikasi hanya berlangsung dalam satu arah
dimana dari pimpinan ke bawahan bukan sebaliknya, pengawsan terhadap (sikap,
perbuatan, tingkah laku atau kegiatan) dari para bawahannya dilakukan dengan
ketat, tak ada kesempatan untuk para bawahan dalam memberikan (pendapat, saran
atau pertimbangan), lebih banyak mendapatkan kritikan dibanding pujian,
menuntut adanya kesetiaan dan prestasi yang sempurna dari para bawahan tanpa
adanya syarat, dan cenderung memberikan paksaan, hukuman dan anacaman
-
Gaya
Kepemimpinan Demokratis
Gaya
kepemimpinan demokratis adalah suatu kemampuan dalam mempengaruh orang lain
agar dapat bersedia untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan yang sudah
ditetapkan dengan berbagai cara atau kegiatan yang dapat dilakukan dimana
ditentukan bersama antara bawahan dan pimpinan.
Gaya
tersebut terkadan gidsebut sebagai gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak
buah, kepemimpinan dengan adanya kesederajatan, kepemimpinan partisipatif atau
konsultatif. Pemimpin yang berkonsultasi kepada anak buahnya dalam merumuskan
suatu tindakan putusan bersama. Adapun ciri-ciri dari gaya kepemimpinan
demokratis ini yaitu memiliki wewenang pemimpin yang tidak mutlah, pimpinan
bersedia dalam melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan, kebijakan dan
keputusan itu dibuat bersama antara bawahan dan pimpinan, komunikasi dapat
berlangsung dua arah dimana pimpinan ke bawahan dan begitupun sebaliknya, pengawasan
terhadap (sikap, perbuatan, tingkah laku atau kegiatan) kepada bawahan
dilakukan dengan wajar, prakarsa bisa datang dari bawahan atau pimpinan,
bawahan memiliki banyak kesempatan dalam menyampaikan saran atau pendapat dan
tugas-tugas yang diberikan kepada bawahan bersifat permintaan dengan
mengenyampingkan sifat instruksi, dan pimpinan akan memperhatikan dalam
bertindak dan bersikap untuk memunculkan saling percaya dan saling menghormati.
-
Gaya
kepemimpinan delegatif
Gaya
kepemimpinan delegatif memiliki ciri-ciri yaitu pemimpin akan jarang dalam
memberikan arahan, pembuat keputusan diserahkan kepada bawahan, dan anggota
organisasi tersebut diharapkan bisa menyelesaikan segala permasalahannya
sendiri. Gaya kepemimpinan delegatif ini memiliki ciri khas dari perilaku
pemimpin didalam melakukan tugasnya sebagai pemimpin. Dengan demikian, maka
gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan sangat dipengaruhi adanya karakter
pribadinya. Kepemimpinan delegatif merupakan sebuah gaya kepemimpinan yang
dijalankan oleh pimpinan untuk bawahannya yang mempunyai kemampuan, agar bisa
menjalankan aktivitasnnya yang untuk sementara waktu tak bisa dilakukan oleh
pimpinan dengan berbagai macam sebab. Gaya kepemimpinan delegatif ini sangat
cocok dilakukan kalau staff yang dimiliki ternyata mempunyai motivasi dan
kemampuan yang tinggi. Dengan demikian pimpinan tak terlalu banyak dalam
memberikan perintah kepada bawahannya, bahkan pemimpin akan lebih banyak dalam
memberikan dukungan untuk bawahannya.
-
Gaya
kepemimpinan birokratis.
Gaya
kepemimpinan birokratis ini dilukiskan dengan pernyataan “Memimpin berdasarkan
adanya peraturan”. Perilaku memimpin yang ditandai dengan adanya keketatan
pelaksanaan suatu prosedur yang telah berlaku untuk pemimpin dan anak buahnya.
Pemimpin yang birokratis, secara umum akan membuat segala keputusan itu
berdasarkan dari aturan yang telah berlaku dan tidak ada lagi fleksibilitas.
Segala kegiatan mesti terpusat pada pemimpin dan sedikit saja diberikan
kebebasan kepada orang lain dalam berkreasi dan bertindak, itupun tak boleh
melepaskan diri dari ketentuan yang sudah berlaku. Adapun beberapa ciri gaya
kepemimpinan birokratis ialah Pimpinan akan menentukan segala keputusan yang
berhubungan dengan seluruh pekerjaan dan akan memerintahkan semua bawahan untuk
bisa melaksanakannya; Pemimpin akan menentukan semua standar tentang bagaimana
bawahan akan melakukan tugas; Adanya sanksi yang sangat jelas kalau seorang
bawahan tidak bisa menjalankan tugas sesuai dengan standar kinerja yang sudah
ditentukan.
-
Gaya
Kepemimpinan Laissez Faire
Gaya
ini akan mendorong kemampuan anggota dalam mengambil inisiatif. Kurang
interaksi dan kontrol yang telah dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya
tersebut hanya dapat berjalan jika bawahan mampu memperlihatkan tingkat
kompetensi dan keyakinan dalam mengejar tujuan dan sasaran yangcukup tinggi.
Dalam
gaya kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali dalam menggunakan kekuasaannya
atau sama sekali telah membiarkan anak buahnya untuk berbuat dalam sesuka
hatinya. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah Bawahan akan
diberikan kelonggaran atau fleksibelitas dalam menjalankan tugas-tugasnya,
tetapi dengan hati-hati diberikan batasan serta berbagai macam prosedur;
Bawahan yang sudah berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugasnya akan diberikan
hadiah atau penghargaan, di samping adanya suatu sanksi-sanksi bagi mereka yang
kurang berhasil, sebagai dorongan; Hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam
suasana yang sangat baik secara umum manajer akan bertindak cukup baik; Manajer
akan menyampaikan berbagai macam peraturan yang berhubungan dengan tugas-tugas
atau perintah, dan sebaliknya para bawahan akan diberikan kebebasan dalam
memberikan pendapatannya.
-
Gaya
Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah
gaya pemimpin yang telah memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang ingin
diambil dari dirinya sendiri dengan secara penuh. Segala pembagian tugas dan
tanggung jawab akan dipegang oleh si pemimpin yang bergaya otoriter tersebut,
sedangkan para bawahan hanya sekedar melaksanakan tugas yang sudah diberikan.
Tipe
kepemimpinan yang otoriter biasanya mengarah kepada tugas. Artinya dengan
adanya tugas yang telah diberikan oleh suatu lembaga atau suatu organisasi,
maka kebijaksanaan dari lembaganya ini mesti diproyeksikan dalam bagaimana ia
dalam memerintah kepada bawahannya agar mendapatkan kebijaksanaan tersebut
dapat tercapai dengan baik. Di sini bawahan hanyalah menjadi suatu mesin yang
hanya sekedar digerakkan sesuai dengan kehendaknya sendiri, inisiatif yang
datang dari bawahan sama sekali tidak pernah sekalipun diperhatikan.
-
Gaya
Kepemimpinan Karismatis
Kelebihan
dari gaya kepemimpinan karismatis ini ialah mampu menarik orang. Mereka akan
terpesona dengan cara berbicaranya yang akan membangkitkan semangat. Biasanya
pemimpin dengan memiliki gaya kepribadian ini akan visionaris. Mereka sangat
menyenangi akan perubahan dan adanya tantangan.
Mungkin,
kelemahan terbesar dari tipe kepemimpinan model ini dapat di analogikan dengan
peribahasa Tong Kosong yang Nyaring Bunyinya. Mereka hanya mampu menarik orang
untuk bisa datang kepada mereka. Setelah beberapa lama kemudian, orang – orang
yang datang tersebut akan kecewa karena adanya ketidak-konsisten-an. Apa yang
telah diucapkan ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta dalam
pertanggungjawabannya, si pemimpin akan senantiasa memberikan alasan,
permintaan maaf, dan janji.
-
Gaya
Kepemimpinan Diplomatis
Kelebihan
gaya kepemimpinan diplomatis ini terdapat di penempatan perspektifnya. Banyak
orang seringkali selalu melihat dari satu sisi, yaitu pada sisi keuntungan
dirinya. Sisanya, melihat dari sisi keuntungan pada lawannya. Hanya pemimpin
dengan mengguanakan kepribadian putih ini yang hanya bisa melihat kedua sisi,
dengan jelas! Apa yang dapat menguntungkan dirinya, dan juga dapat
menguntungkan lawannya.
Kesabaran
dan kepasifan merupakan kelemahan pemimpin dengan menggunakan gaya diplomatis
ini. Umumnya, mereka sangat begitu sabar dan sanggup dalam menerima tekanan.
Namun kesabarannya ini dapat sangat keterlaluan. Mereka dapat menerima
perlakuan yang takmenyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak
menerimanya. Dan seringkali hal inilah yang membuat para pengikutnya akan
meninggalkan si pemimpin.
-
Gaya
Kepemiminan Moralis
Kelebihan
dari gaya kepemimpinan moralis seperti ini ialah pada umumnya Mereka hangat dan
sopan untuk semua orang. Mereka mempunayi empati yang tinggi terhadap segala
permasalahan dari para bawahannya, juga sabar, murah hati Segala bentuk
kebajikan-kebajikan ada dalam diri pemimpin tersebut. Orang – orang akan datang
karena kehangatannya terlepas dari semua kekurangannya. Kelemahan dari
pemimpinan seperti ini ialah emosinya. Rata-rata orang seperti ini sangatlah
tidak stabil, terkadang dapat tampak sedih dan sangat mengerikan, kadang pula bisa
saja sangat begitu menyenangkan dan bersahabat.
-
Gaya
Kepemimpinan Administratif
Gaya
kepemimpinan tipe ini akan terkesan kurang inovatif dan telalu kaku dalam
memandang aturan. Sikapnya sangat konservatif serta kelihatan sekali takut di
dalam mengambil resiko dan mereka cenderung akan mencari aman.
-
Gaya
kepemimpinan analitis (Analytical).
Dalam
gaya kepemimpinan tipe ini, biasanya
untuk pembuatan keputusan didasarkan pada suatu proses analisis, terutama analisis logika dari setiap
informasi yang didapatkan. Gaya ini akan berorientasi pada hasil dan akan lebih
menekankan pada rencana-rencana rinci serta berdimensi jangka panjang.
Kepemimpinan model ini sangatlah mengutamakan logika dengan menggunakan beberap
pendekatan-pendekatan yang masuk akal serta kuantitatif.
-
Gaya
kemimpinan asertif (Assertive).
Gaya
kepemimpinan ini bersifat lebih agresif dan memiliki perhatian yang sangat
begitu besar pada suatu pengendalian personal dibandingkan dengan gaya
kepemimpinan yang lainnya. Pemimpin tipe asertif lebih terbuka didalam konflik
dan kritik. Setiap Pengambilan keputusan muncul dari suatu proses argumentasi
dengan adanya beberapa sudut pandang sehingga muncullah kesimpulan yang
memuaskan.
-
Gaya
kepemimpinan entrepreneur.
Gaya
kepemimpinan ini sangatlah menaruh perhatian pada kekuasaan dan hasil akhir
serta kurang mengutamakan untuk kebutuhan akan kerjasama. Gaya
kepemimpinan model ini biasanya akan selalu mencari pesaing dan akan menargetkan
standar yang tinggi.
-
Gaya
Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan
visioner, merupakan pola kepemimpinan yang ditujukan untuk bisa memberi arti
pada kerja dan usaha yang perlu dijalankan secara bersama-sama oleh para
anggota perusahaan dengan cara memberikan arahan dan makna pada suatu kerja dan
usaha yang dilakukan berdasarkandengan visi yang jelas. Kepemimpinan Visioner
akan memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya mesti
mempunya empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992),
yaitu
1.
Seorang pemimpin visionermesti mempunayi kemampuan untuk bisa berkomunikasi
secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini
membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and
motivation.” ;
2.
Seorang pemimpin visioner mesti dapat memahami lingkungan luar dan dapat
memiliki kemampuan dalam bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang
yang datang. Ini termasuk, yang paling penting, dapat “relate skillfully”
dengan orang-orang kunci yang ada di luar organisasi, namun memainkan peran
yang sangat penting terhadap organisasi (investor, dan pelanggan). ;
3.
Seorang pemimpin mesti bisa memegang peran penting didalam membentuk dan dapat
mempengaruhi segala praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang
pemimpin dalam hal ini mesti dapat terlibat di dalam organisasi untuk bisa
menghasilkan dan dapat mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan
mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved
vision). ;
4.
Seorang pemimpin visioner mesti bisa mempunyai atau mengembangkan “ceruk” untuk
bisa mengantisipasi apa yang terjadi di masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah
suatu bentuk imajinatif, yang mengacu atas kemampuan data untuk dapat mengakses
segala kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini
termasuk kemampuan dalam mengatur sumber daya organisasi guna dapat
memperiapkan diri menghadapi adanya kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.
Dalam
era turbulensi lingkungan seperti saat ini, setiap pemimpin mesti siap dan
dituntut mampu dalam melakukan suatu transformasi terlepas dari gaya
kepemimpinan apa yang mereka anut.
Pemimpin mesti mampu dalam mengelola perubahan, termasuk di dalamnya
dapat mengubah budaya organisasi yang tak lagi kondusif dan produktif. Pemimpin
mesti memiliki visi yang tajam, pandai mengelola keragaman dan dapat mendorong terus suatu proses pembelajaran karena adanya dinamika suatu perubahan
lingkungan serta adanya persaingan yang semakin ketat.
-
Gaya
Kepemimpinan Situasional
kepemimpinan
situasional ialah “a leadership contingency theory that focuses on followers
readiness/maturity”. Inti dari teori kepemimpinan situational ialah bahwa suatu
gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan dapat berbeda-beda, tergantung dari
seperti apa tingkat kesiapan para pengikutnya.
Pemahaman
fundamen dari teori kepemimpinan situasional ialah mengenai tidak adanya gaya
kepemimpinan yang paling terbaik. Kepemimpinan yang efektif ialah bergantung
dari relevansi tugas, dan hampir semua pemimpin yang sukses selalu dapat mengadaptasi
gaya kepemimpinan yang sangat tepat.
Efektivitas
kepemimpinan bukan hanya pada soal pengaruh terhadap individu dan kelompok akan
tetapi bergantung juga terhadap tugas, pekerjaan atau fungsi yang dibutuhkan
secara keseluruhan. Jadi pendekatan
pada kepemimpinan situasional itu mesti fokus pada fenomena kepemimpinan di
dalam suatu situasi yang unik.
Dari
cara pandang ini, seorang pemimpin agar efektif ia mesti mampu dalam menyesuaikan gayanya terhadap
tuntutan situasi yang selalu berubah-ubah. Teori kepemimpinan situasional akan
bertumpu pada dua konsep yang fundamental yaitu: tingkat kesiapan/kematangan
individu atau kelompok sebagai pengikut dan gaya kepemimpinan.
-
Kepemimpinan
Militeristik
Tipe
pemimpin seperti ini sangatlah mirip dengan tipe pemimpin yang otoriter yang
merupakan tipe pemimpin yang senantiasa bertindak sebagai diktator terhadap
para anggota kelompoknya. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan
militeristik yaitu: (1) lebih banyak dalam menggunakan sistem perintah atau
komando, keras dan sangat begitu otoriter, kaku dan seringkali untuk kurang
bijaksana, (2) menghendaki adanya kepatuhan yang mutlak dari bawahan, (3)
sangat menyenangi suatu formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda
kebesaran yang terlalu berlebihan, (4) menuntut adanya sebuah disiplin yang
keras dan kaku dari para bawahannya, (5) tidak menghendaki adanya saran, usul,
sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi hanya dapat
berlangsung searah.
·
Gaya Kepemimpinan Soekarno
Presiden
Soekarno, Adalah bapak proklamator, seorang orator ulung yang bisa
membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya
kepemimpinan yang sangat populis, bertempramen meledak-ledak, tidak jarang
lembut dan menyukai keindahan. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir.
Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau
partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era
tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya
diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan
ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi
panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan
Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat
(Amerika dan Eropa).
Ir.
Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah
dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya.
Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang
demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus individu. Menjelang
akhir kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan
UUD 1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga. Soekarno termasuk sebagai tokoh
nasionalis dan anti-kolonialisme yang pertama, baik di dalam negeri maupun
untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri seperti India, Cina, Vietnam, dan
lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis anti-kolonialisme seperti inilah pencipta
Asia pasca-kolonial. Dalam perjuangannya, mereka harus memiliki visi
kemasyarakatan dan visi tentang negara merdeka. Ini khususnya ada dalam
dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa kolonialisme kelihatan kokoh secara
alamiah dan legal di dunia. Prinsip politik mempersatukan elite gaya Soekarno
adalah "alle leden van de familie aan een eet-tafel" (semua anggota
keluarga duduk bersama di satu meja makan). Dia memperhatikan asal-usul daerah,
suku, golongan, dan juga parta
·
GAYA
KEPEMIMPINAN SOEHARTO
Presiden
Soeharto Diawali dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun
1966 kepada Letnan Jenderal Soeharto, maka Era Orde Lama berakhir diganti dengan
pemerintahan Era Orde Baru. Pada awalnya sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan
menonjol dari Presiden Soeharto adalah kesederhanaan, keberanian dan kemampuan
dalam mengambil inisiatif dan keputusan, tahan menderita dengan kualitas mental
yang sanggup menghadapi bahaya serta konsisten dengan segala keputusan yang
ditetapkan. Gaya Kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya
kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya
kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu
yang berdampak positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan
perlunya langkah-langkah penyesuaian.
Tahun-tahun
pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara
memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan
kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping
perannya sebagai alat pertahanan negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir
lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri
dengan cara pembatasan jumlah partai politik, penerapan sensor dan penahanan
lawan-lawan politik. Sejumlah besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di
Indonesia diberikan kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri
hanya dapat memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar Bila melihat
dari penjelasan singkat di atas maka jelas sekali terlihat bahwa mantan
Presiden Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan
sentralistis
·
GAYA
KEPEMIMPINAN SBY
TIPE
MILITERISTIK
Pertama
saya mengaitkan bahwa SBY bergaya pemimpin yang bertipe militeristik. Hal ini
disebabkan karena yang mempengaruhi corak kepemimpinan seseorang bisa berupa
pendidikan dan pengalaman. Dari segi pendidikan dan pengalaman inilah yang
mengindikasikan bahwa SBY memiliki gaya militeristik karena SBY merupakan
lulusan AKABRI terbaik dan mengabdi sebagai perwira TNI selama 27 tahun, serta
meraih pangkat Jendral TNI tahun 2000. Meskipun cukup lama di dunia militer,
SBY juga berkembang dalam pendidikan sipil seperti memperoleh Master in
Management dari Webster University, Amerika Serikat tahun 1991. Lanjutan
studinya berlangsung di Institut Pertanian Bogor, dan di2004 meraih Doktor
Ekonomi Pertanian. Pada 2005, beliau memperoleh anugerah dua Doctor Honoris
Causa, masing-masing dari almamaternya Webster University untuk ilmu hukum, dan
dari Thammasat University di Thailand ilmu politik. Serta SBY dikenal aktif
dalam berbagai organisasi masyarakat sipil. Beliau pernah menjabat sebagai Co-Chairman
of the Governing Board of the Partnership for the Governance Reform, suatu
upaya bersama Indonesia dan organisasi-organisasi internasional untuk
meningkatkan tata kepemerintahan di Indonesia.
Meskipun
SBY telah lama menyesuaikan diri dengan kepemimpinan sipil yang egaliter dan
demokratis tetapi budaya militer sebagai dasar pembentukan karakter
kepemimpinan SBY tidak bisa hilang begitu saja. Hal ini dapat kita lihat dari
beberapa contoh kasus gaya kepemimpinan militeristik SBY yang masih melekat,
seperti beberapa kali memarahi menterinya didepan umum, memarahi para bupati
dan walikota seluruh Indonesia yang tidur “takalok ” ketika SBY sedang
berpidato. Selain itu gaya militeristik SBY tergambar dari tindakan-tindakannya
SBY dalam pelaksanaan administrai negara yang formalitas dan kaku. Ini
merupakan salah satu karakteristik dari gaya kepemimpinan militeriktik yaitu
segala sesuatu bersifat formal. Terlihat dari pelaksanaan pemerintahan SBY yang
berjalan dengan prinsip bahwa segala sesuatunya sesuai dengan peraturan artinya
setiap pikiran baru harus bersabar untuk menunggu sampai peraturannya berubah
dulu, terobosan menjadi barang langka.
TIPE
KARISMATIK
Karisma
adalah hal yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Semua pemimpin sebenarnya
dengan gampang bisa mempunyai karisma, tergantung caranya memimpin. Buat saya,
Pak SBY adalah orang yang berkarisma. Kharismanya bukan hanya tebar pesona atau
main yoyo tapi benar-benar diperhitungkan matang.
Terus
terang belum ada pemimpin yang berkarisma seperti pak SBY pada saat ini.
Dibandingkan dengan calon-calon presiden yang akan datang, Karisma Pak SBY
masih di atas mereka. Pak SBY jelas memiliki kharisma yang berkarakter.
Karakter seorang pemimpin masa depan yang mampu memimpin rakyatnya dengan baik.
Karisma
beliau bukan hanya tebar pesona seperti apa yang pernah disampaikan lawan
politiknya. Karisma yang ada dalam diri beliau adalah karisma yang telah
menyatu karena memiliki kepribadian yang unggul. Unggul dalam segala bidang.
Baik bidang ideologi, politik, ekonomi, budaya, sosial, ataupun pendidikan.
TIPE
DEMOKRATIS
Menurut
saya, kepemimpinan SBY juga masuk dalam tipe demokratik mungkin disebabkan
karena tuntutan reformasi, situasi dan kondisi saat ini yang semakin liberal.
Dimana tipe pemimpin dengan gaya ini dalam mengambil keputusan selalu mengajak
beberapa perwakilan bawahan, namun keputusan tetap berada di tangannya. Selain
itu pemimpin yang demokratis berusaha mendengar berbagai pendapat, menghimpun
dan menganalisa pendapat-pendapat tersebut untuk kemudian mengambil keputusan
yang tepat. Tidak jarang hal ini menimbulkan persepsi bahwa SBY seorang yang
lambat dalam mengambil keputusan dan tidak
jarang mengurangi tingkat determinasi dalam mengambil keputusan.
Pemimpin ini kadang tidak kokoh ketika melaksanakan keputusan karena ia kadang
goyah memperoleh begitu banyak masukan dalam proses implementasi kebijakan.
Secara
teoritis pemimpin tipe ini bisa menerima kritik, kritik dibalas pula dengan
kontra kritik. Bukan menjadi rahasia lagi bila seringkali kita melihat dan
mendengar bagaimana SBY melakukan kontra kritik terhadap orang-orang yang
mengkritiknya. SBY percaya bahwa kebenaran hanya bisa diperoleh dari wacana
publik yang melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat. Selain itu tipe
pemimpin ini dalam mengambil keputusan berorientasi pada orang, apresiasi
tinggi pada staf dan sumbangan pemikiran dari manapun.
Kesimpulannya
adalah bahwa setiap pemimpin tentu mengharapkan sesuatu yang terbaik untuk
masyarakat, bangsa dan negaranya. Begitupun dengan SBY yang mempunyai tipe
kepemimpinan yang lebih dari satu dan tidak hanya seperti yang sudah saya
jelaskan diatas tetapi lebih dari itu, seperti tipe sopportif, partisifatif,
instrumental dan yang lainnya, kesemuanya itu disesuaikan dengan situsi, dan
perkembangan zaman yang ada. Intinya setiap pemimpin selalu mengharapkan agar
wilayah yang dipimpinnya tersebut dapat tercipta suasana yang aman, tentram dan
damai sesuai dengan tujuan bersama.
·
GAYA
KEPEMIMPINAN JOKO WIDODO
Dari
analisa diatas dapat disimpulkan bahwa tipe kepemimpinan yang dipakai jokowi
yaitu :
1. Demokrat
Sebelum
membuat suatu keputusan jokowi selalu
ingin mendengar, tahu keluhan rakyat, dan kesulitan rakyatnya, dengan begitu
iya bisa memutuskan
kebijakan/keputusan yang direncanakannya
dan berunding dengan bawahan nya terlebih dahulu.
2. Non personal
Karena
jokowi menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta yang di lantik oleh Menteri dalam
Negeri melalui sumpah/janji.
3. Kharismatik
· Jokowi mempunyai daya penarik yang
sangat besar, karena itu umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya juga besar.
· Pengikut jokowi tidak dapat
menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti dan menaati pemimpinnya.
· Karisma yang dimiliki tidak bergantung
pada umur, kekayaan, kesehatan, ataupun
ketampanan jokowi.
Dari
analiasa diatas kita juga bisa menyimpulkan gaya kepemimpinan yang dipakai oleh
jokowi:
* Gaya kepemimpinan demokratis
Karena
jokowi selalu mendelegasikan wewenangnya, dengan pendelegasian wewenang
tersebut tiap-tiap divisi diberi kepercayaan penuh untuk menyelesaikan tugasnya
dan secara berkala jokowi akan memantau/mengontrol pekerjaan yang telah
diberikan pada masing-masing divisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar